Segenggam padi
Tumbuh, berakar melalui jantung pertiwi
Ketika sabit menebas rindu bebatangan hijau
Bulir kuning melepas pegangannya,
Terjun bebas menuju pertiwi
Berharap tuk tumbuh, megah menyongsong langit
Ya, mereka mengerti
Sepanjang batang merenggang
Putih awan berarak tak 'kan pernah terpegang
Hanya saja, mungkin suatu saat
Tumpukan gabah menguning
Dapat menyentuh sedikit birunya langit
Tatapan kini jatuh pada ia
Yang berpeluh punguti gabah basah
Menyentuh halus muka kulit pertiwi
dengan tangan kasarnya
Karena masa yang sama,
ternantikan
#HariTani24Sept Semoga Pertanian Indonesia kelak tak terlupakan, namun terbanggakan. Seorang Mahasiswa Pertanian Indonesia, Aida Fadhilah
Selasa, 23 September 2014
Minggu, 21 September 2014
Awal Sebuah Pelayaran
Malam ini, momen itu berakhir
Ah, tak ada tangis kali ini
Tersisa senyum dan tawa
Menyublimasi, penuhi ruang yang dahulu hampa
Perlahan, menyebar menyeruak
Gapai sisi-sisi terjauh, bukan
Bukan minoritas
Hanya mungkin, sedikit tak tergapai
Dalam lingkup ruang
Atmosfer mengental
Satu visi itu mulai menjelas
Baur air mata dan gelak tawa,
Terlihat semakin mendekat
Aku sendiri, ingin menyebut ini
keluarga
T'lah kusiapkan keegoisanku 'tuk pertahankan
keluarga ini
Kulebarkan telah dadaku 'tuk terima
semua heterogenitas ini
Tanganku, tak 'kan pernah keberatan
Tuk merentang merangkul saudara-saudaraku nanti
Hanya saja, jujur
Aku masih menunggu
Tuk arungi lautan terjang di depan
Dalam bahtera yang kuyakin 'kan indah ini
Karena Tuhan t'lah tempatkan aku di sini
Di tengah orang-orang pilihan-Nya
Di akhir nanti,
Ya, kuharapkan sebuah tangis bahagia
Saat toga terbang rindukan langit
-Bogor, 20 September 2014-
H3 Baur, Ilmu dan Teknologi Pangan
Ia yang merasa mulai pantas berdiri dalam lingkaran ini, Aida Fadhilah
Ah, tak ada tangis kali ini
Tersisa senyum dan tawa
Menyublimasi, penuhi ruang yang dahulu hampa
Perlahan, menyebar menyeruak
Gapai sisi-sisi terjauh, bukan
Bukan minoritas
Hanya mungkin, sedikit tak tergapai
Dalam lingkup ruang
Atmosfer mengental
Satu visi itu mulai menjelas
Baur air mata dan gelak tawa,
Terlihat semakin mendekat
Aku sendiri, ingin menyebut ini
keluarga
T'lah kusiapkan keegoisanku 'tuk pertahankan
keluarga ini
Kulebarkan telah dadaku 'tuk terima
semua heterogenitas ini
Tanganku, tak 'kan pernah keberatan
Tuk merentang merangkul saudara-saudaraku nanti
Hanya saja, jujur
Aku masih menunggu
Tuk arungi lautan terjang di depan
Dalam bahtera yang kuyakin 'kan indah ini
Karena Tuhan t'lah tempatkan aku di sini
Di tengah orang-orang pilihan-Nya
Di akhir nanti,
Ya, kuharapkan sebuah tangis bahagia
Saat toga terbang rindukan langit
-Bogor, 20 September 2014-
H3 Baur, Ilmu dan Teknologi Pangan
Ia yang merasa mulai pantas berdiri dalam lingkaran ini, Aida Fadhilah
Senin, 01 September 2014
Bejana Memoar
Kelam langit tengah mengintip
Menyulam bayang semu dari balik jendela
Derik telinga pada kusennya
Mengambang rindu pada muka bejana
Gelombang yang tak sepasang laut malam itu
Cukup tenggelamkan serangga-serangga hati
Bermain nakal, putar semua suka serta duka
Aku menghela napas
Bayangmu terbang satu demi satu
Menjambangi bintang kesepian
Lepas tawa iringi orkes para jangkrik
Atau ringik tangis gerimis malam-malam lalu
Ah, aku merindukanmu
Sentuh hangat jemarimu di pundakku
Dalam rengkuhmu,
ku terbiasa rebahkan lelahku
Menyulam bayang semu dari balik jendela
Derik telinga pada kusennya
Mengambang rindu pada muka bejana
Gelombang yang tak sepasang laut malam itu
Cukup tenggelamkan serangga-serangga hati
Bermain nakal, putar semua suka serta duka
Aku menghela napas
Bayangmu terbang satu demi satu
Menjambangi bintang kesepian
Lepas tawa iringi orkes para jangkrik
Atau ringik tangis gerimis malam-malam lalu
Ah, aku merindukanmu
Sentuh hangat jemarimu di pundakku
Dalam rengkuhmu,
ku terbiasa rebahkan lelahku
Untuk Keluargaku, KOMDIS MPKMB 51
Yang berjuang bersamaku demi hari yang lebih cerah
Langganan:
Postingan (Atom)