Selasa, 23 September 2014

Rindu Padi pada Sang Langit

Segenggam padi
Tumbuh, berakar melalui jantung pertiwi
Ketika sabit menebas rindu bebatangan hijau
Bulir kuning melepas pegangannya,
Terjun bebas menuju pertiwi
Berharap tuk tumbuh, megah menyongsong langit


Ya, mereka mengerti
Sepanjang batang merenggang
Putih awan berarak tak 'kan pernah terpegang
Hanya saja, mungkin suatu saat
Tumpukan gabah menguning
Dapat menyentuh sedikit birunya langit

Tatapan kini jatuh pada ia
Yang berpeluh punguti gabah basah
Menyentuh halus muka kulit pertiwi
dengan tangan kasarnya

Karena masa yang sama,
ternantikan

#‎HariTani24Sept‬ Semoga Pertanian Indonesia kelak tak terlupakan, namun terbanggakan. Seorang Mahasiswa Pertanian Indonesia, Aida Fadhilah

Minggu, 21 September 2014

Awal Sebuah Pelayaran

Malam ini, momen itu berakhir
Ah, tak ada tangis kali ini
Tersisa senyum dan tawa
Menyublimasi, penuhi ruang yang dahulu hampa

Perlahan, menyebar menyeruak
Gapai sisi-sisi terjauh, bukan
Bukan minoritas
Hanya mungkin, sedikit tak tergapai

Dalam lingkup ruang
Atmosfer mengental
Satu visi itu mulai menjelas
Baur air mata dan gelak tawa,
Terlihat semakin mendekat

Aku sendiri, ingin menyebut ini
keluarga
T'lah kusiapkan keegoisanku 'tuk pertahankan
keluarga ini
Kulebarkan telah dadaku 'tuk terima
semua heterogenitas ini
Tanganku, tak 'kan pernah keberatan
Tuk merentang merangkul saudara-saudaraku nanti

Hanya saja, jujur
Aku masih menunggu
Tuk arungi lautan terjang di depan
Dalam bahtera yang kuyakin 'kan indah ini

Karena Tuhan t'lah tempatkan aku di sini
Di tengah orang-orang pilihan-Nya

Di akhir nanti,
Ya, kuharapkan sebuah tangis bahagia
Saat toga terbang rindukan langit
-Bogor, 20 September 2014-
H3 Baur, Ilmu dan Teknologi Pangan
Ia yang merasa mulai pantas berdiri dalam lingkaran ini, Aida Fadhilah

Senin, 01 September 2014

Bejana Memoar

Kelam langit tengah mengintip
Menyulam bayang semu dari balik jendela
Derik telinga pada kusennya
Mengambang rindu pada muka bejana

Gelombang yang tak sepasang laut malam itu
Cukup tenggelamkan serangga-serangga hati
Bermain nakal, putar semua suka serta duka
Aku menghela napas

Bayangmu terbang satu demi satu
Menjambangi bintang kesepian
Lepas tawa iringi orkes para jangkrik
Atau ringik tangis gerimis malam-malam lalu

Ah, aku merindukanmu
Sentuh hangat jemarimu di pundakku
Dalam rengkuhmu,
ku terbiasa rebahkan lelahku


Untuk Keluargaku, KOMDIS MPKMB 51
Yang berjuang bersamaku demi hari yang lebih cerah