Rabu, 19 Oktober 2011

Penyakit

Jikalau tak ada lagi yang peduli
Pada diriku ini
yang terlindas kasta
tergilas ketidak pastian hukum
Maka lebih baik mati saja aku

Mungkin aku salah
Namun aku hanya ingin lanjutkan hidup
Dengan sebuah pisang mentah
Yang kupetik dari kebun sebelah

Namun bukan kenyang kudapat
Lainkan siksa aku terjerat
Terisolasi dalam bui besi

Jikalau hukum negeri ini
sudah bisa dijual-dibeli
Bagaimana nasibku ini
tak mungkin membeli barang sepasal
Maka lebih baik mati saja aku

Memang sudah penyakit negeri ini
Kaum kecil tak sama dengan 'wong gede'
Sebuah pisang tak sama dengan semiliar rupiah!
Yang satu dibayar setahun penjara
Yang satunya lagi
dibayar tak masuk penjara!

Mungkin aku memang miskin
Mungkin salah orang tuaku yang miskin
Mungkin salah buyutku yang juga miskin
Mungkin salah pemerintah
Di mana nasib orang miskin tidak bisa diubah!

Jikalau tak ada lagi yang peduli
Pada diriku ini
yang terlindas kasta
tergilas ketidak pastian hukum
Maka lebih baik mati saja aku

Kamis, 29 September 2011

Pesisir Merindu

Rantai-rantai ombak terhempas
Pulang menghambur mesra dalam belai lembut karang
Hanyutkan kuarsa dalam tiap rindu yang terpuaskan

Seperti halnya aku yang menunggumu
Setia tanamkan kaki dalam butir-butir pasir
Merenda waktu sepanjang pesisir
Andai kau datang sesering ombak menyisir

Aku ini bak pantai kering
Laut mati
Tak berair, tak berarus
Kering kerontang menunggumu berlabuh padaku
Basuh sakit akan luka menganga ini

Mungkinkah kau kembali?
Dari balik gunung es di ujung dunia
Mengembun terbawa angin pasat?
Atau menjelma engkau sebagai La Nina
Banjiri pusat hatiku yang kemarau?

Entah apa yang harus kulakukan
'Tuk buatmu kembali bersandar
Dalam tiap buih-buih kasih
Yang tersimpan hanya untukmu

Walau seratus tahun harusku menunggu
Aku tak peduli
Meski doaku tiada lagi didengar-Nya
Aku tetap tidak peduli

Senin, 05 September 2011

Ziarah

Tanah retak
Jejakkan sengsara pada pertiwi
Tuntun semua luka
Berlabuh dalam liang lahat

Semua luka itu
Kubawa mati
Tak sisakan untukmu
Atau juga turunanmu

Apa kau mulai rindukan aku?
Maka temanilah aku
Bermain dengan siksa dan sepi
Bernyanyi dalam jerit serta tangis

Sirami aku
Yang kering keronta
Dengan tangis zikirmu
Kumenunggu semua doamu

Selasa, 16 Agustus 2011

Lagu Merdeka

Ia terkesiap dengar cucunya dendangkan

Lagu Merdeka dengan sungaunya

Hantarkan memori berpuluh tahun lalu

Damparkan hati pada langit merah lautan api


Desing bedil yang muntahkan timah

panas

Tembus segala asa, tumbangkan segala harap

tewas

Dalam balut Merah-Putih sobek


Tangannya gemetar pegang senapan besi dingin

Kemarin ia duduk di bangku kayu simak gurunya jelaskan politik

Sekarang ia berdiri dalam medan perebutan poilitik

Mencari kata merdeka dalam semak penuh ranjau


Matanya nanar tatap setiap jiwa yang terenggut

Ia ingat benar, teman sebangkunya jadi korban

Kepalanya bolong tertembus timah panas


“Merdekaaa!” pekik keturunan ketiganya

Bangunkan ia dari kenangan perih puluh tahun silam

Ia raba medali yang dahulu tersemat di dada

Bangga nan perih tercampur teraduk


- Jiwaku telah hilang enam puluh enam tahun silam

Membaur menyatu dalam tiap Merah-Putih yang berkibar

Menjiwa dalam tiap kata merdeka yang terseru.


Aida Fadhilah,

Teruntuk mereka yang merdekakan kami Bontang, 16 Agustus 2011

Sabtu, 16 Juli 2011

Hujan Tlah Pulang

Tak dapat kuungkap
Betapa kurindu suara merdu itu
Nan gemericik
jatuh di atas rerumput hijau
Nan deras
mengguyur atap-atap rumah

Basah aku
Dalam peluk rindumu

Kamis, 14 Juli 2011

Bukan Rumiyati (Kisah Lain)

Kadang aku masih menanyakan
Hal yang sama pada orang yang sama
Padaku
Tentangku

Bersalahkah aku tentang itu semua?
Nyawa itu melayang tak sepenuhnya salahku kan?
Aku hanya membela diriku
Karena kubosan disiksa!
Dilecehkan seakan aku pelacur
Diinjak seakan aku seekor semut tak berdaya
Itu, bukan salahku bukan?

Pantaskah aku terima semua ini?
Kebebasan yang telah lama kunantikan
Tanah air yang telah lama kurindukan
Sanak saudara yang telah lama kukehilangan
Mellihat semua di atas
Aku memang pantas menerimanya

Pertanyaan selanjutnya:
Bagaimana nasib saudaraku yang lain di sana?
Di perantauan padang pasir panas
Yang membakar setiap asa yang telah tertanam dalam
dari tanah kelahiran hingga tumbuh
meraih tanah yang katanya suci itu

Kudengar tangis mereka
Menunggu 'tuk membayar kesalahan yang tak sepenuhnya salah mereka
Dengan darah dan nadi yang terputus
Dengan paru-paru yang tak lagi hembuskan kehidupan
Dengan jantung yang tak berdenyut, mati

Kapan mereka seberuntung diriku?
Kapan mereka pulang ke tanah pusaka ini?
Kapan mereka merdeka dari kata "perbudakan"?

Semua tanya terulang di benakku
Hanya terjawab dengan tangis sesak diriku
Tanpa apa-apa yang dapat kulakukan



14 Juli 2011
Mengenang Para Pahlawan Devisa (TKI) yang tak sempat labuhkan segala duka dan derita pada Tanah Pusaka

Selasa, 14 Juni 2011

Pesan Kala Subuh

Menunggu subuh
Akhiri malam penantianku yang panjang
Sudahi segala resah dan keraguan

Diantara bulan yang masih tampakkan sinarnya
Aku berdiri berpayung segala kesah
Resah menantimu pulang:
Berlabuh kembali pada jiwaku yang hampir karam

Ditemani tampiasan ombak
Memandikanku hingga suci dari segala harap
Menyuapi air garam kenyataan
Mengikis segala cita yang dahulu terbentang

Bayang rembulan terpantul di laut lepas
Sebagaimana refleksiku terlihat jelas di atas genang air asin
Aku telah renta dan tua
Wajahku keriput, tak lagi mekar bak mawar merah
Telah layu dan siap menjadi humus:
diuraikan makhluk-makhluk kecil penghuni tanah

Ini aku, Nak
Menunggumu tiap subuh menjelang
Mengingat lekat-lekat bagaimana kau tinggalkan
tanah lahir hingga besarmu
Melantunkan janjimu 'tuk pulang ke pelukanku
Di saat yang sama, kala subuh

Berpuluh tahun ku menunggumu
Tak jua kau bersandar dalam pelukanku
Berliter peluh saksikan teguhnya aku
Menunggumu kembali ke negerimu

Pulanglah, Nak
Sebelum ibumu ini berpulang


Bontang, 14 Juni 2011
4.33

Senin, 06 Juni 2011

Pengais Malam

Di antara semburat cahaya bintang
Yang terselip di balik ilalang
Mengingatkan bahwa malam sedang tak bertuan :
Tak berembulan

Seorang tua mengais lirih
Sela-sela rami
Mencari seekor jangkrik kecil
'Tuk dijadikannya teman makan malam

Tangannya menangkap satu ekor
Ia bersorak girang
Sayang berjuta kenang
Sang jangkrik lepas, tinggal kenangan

Ia rubuh di antara kelam sang malam
Tubuhnya menggigil
Sementara perutnya bernyanyi
kalahkan orkes para jangkrik

Bintang berhenti bersinar
Tangisnya jatuh basahi tubuh yang tak berdaya
Kini mengenang Sang Pengais Malam
Yang bahkan tak tahu kapan malam

Baginya
Setiap saat adalah malam
Yang ia rasakan hanyalah dingin
Kelam
Gelap sang gulita

Ia hanya ingin
Mencari malam
di antara tumpukan malam-malam
kelamnya

Minggu, 05 Juni 2011

Kolong Langit

Setitik kenangan jatuh
Basahi ubun-ubunku yang telah lama rindukan
segala kenangan indah
Yang kini tumbuh kembali
Menyeruak dalam rongga rusukku

Terhitung bertahun lalu
Berbulan lalu
Berminggu lalu
Berhari lalu

Ketika gelak tawa memecah malam
Di mana resmi aku menjadi bagian sebuah keluarga
yang tak pernah bisa terceraikan
Tidak bisa dipisahkan

Beribu pelajaran dan teriakan
akan kebenaran tentang keadilan
Teralun bersama tabuhan jimbae
Serta riuh rendah caci maki yang mendera

Tanya aku
Maka kudiajarkan untuk tak peduli
Telah kukatakan kenyataan yang benar
Dan tak pernah ku 'kan menjilat liurku itu
Cacilah
Makilah
Aku hanya teriakkan kebenaran

Hidup hanyalah panggung sandiwara
Namun di kolong langit ini
Ku belajar untuk tak berbohong pada diri sendiri
Meski beribu topeng kupakai
Tak satupun dusta kuucap
Semua nyata!

Karena dari awal
Aku hanya diajarkan
Tentang kebenaran

Beribu buah telah kupetik kini
Manis masam itulah hidup
Walau terakui
Begitu manis hasil pelajaran ini

Sabtu, 04 Juni 2011

Larilah Ibu

Bagai badai menghantam pertiwi
Tumbangkan segala tiang kehidupan
Tempatku dibesarkan olehmu
Dalam tiap tangis dan tawa yang menghidupiku
Di mana teror menjadi makanan utamaku
Tersusui oleh ketakutan akan kematian

Kini ku berdiri di depanmu
Yang teramat berarti bagi jiwaku
Hingga kutahu alasanku
untuk menantang semua maut :
membunuhku dalam kesetiaan

Mereka semakin dekat,
Ibu
Larilah!
Relakanlah putramu berbalas budi
Meski jasamu 'kan selalu terhutang dalam darahku

Gergaji menghunus setiap asa
Tumbang
Satu demi satu menghantam jiwa-jiwa yang tak teranggap
Aku masih berdiri
Di depan ibu yang menangisiku

Derak reranting pepohonan dan dedaun jatuh
Terserak di atas tanah kering yang menjerit
Diiringi teriakan kumbang yang meminta ampun
Serta para enggang yang mengutuk

Sampailah mereka di hadapanku
Satu-satunya satwa yang bertahan di tengah hancurnya hutan kami!
Mereka pandangi aku seolah jamur di atas kayu lapuk
Satu gerakan, maka tamatlah riwayatku :
Seekor orang utan mati di genggaman manusia tak berhati

Larilah, Ibu
Biarkan putramu berbalas budi
Meski tak 'kan sanggup terbalas semua jasa
Nyawaku,
Hadiah terakhir untukmu

Pelatuk senapan pun menghentak

Selasa, 31 Mei 2011

Pentas Malam

Menyaksikan salah satu dari karya besar-Nya
Menari bersama bintang yang tak berhenti mengedipkan mata
Ditemani alunan tembang ciptaan tuan jangkrik sang maestro
Luput dalam waktu yang semakin larut
Menghilang di tengah kegelapan malam
Dituntun oleh kedamaian jiwa yang menyenangkan
Turut dalam malam-malam sang rembulan

Pertunjukan sang langit telah dimulai
Di mana peran utamanya sang ratu malam
Cantik dengan tubuh bulat penuhnya
Bercahaya perak memikat :
Hipnotis tiap pasang mata yang lihatnya

Dan dayangnya para bintang
Begitu cantik
Mengawal ratunya menjelajah langit
Mengelilingi bumi 'tuk memikat segala makhluk
Buat mereka berdecak kagum akan kebesaran Sang Pencipta

Tak akan selesai pentas sepanjang malam
Kecuali karena sang surya kembali dari peraduannya
Sadarkan semua dari terjaganya malam
Mengakhiri pertunjukan sang langit

Sabtu, 21 Mei 2011

Tak Paham Tapi Sayang

Rasa apa ini?
Sungguh aku tak mengerti

Tiap kali terputar beribu ingatan
Tentangmu yang terbingkai sakit
Luar biasa
Sesakkan rongga rusukku

Jemariku terasa di tusuk beribu jarum
Saat senyum terkembang di rautmu
Nyeri
Seakan darah mengalir diantara buku jari

Dan genggamanmu
Tertinggal di telapakku
Buatku sesak
Tiap rasa itu penuhi angan

Rasa apa ini?
Aku memang tak mengerti
Hanya saja aku
Terlalu sayang tuk lupakannya

Selasa, 17 Mei 2011

Rentang Waktu

Dalam tiap doa

Yang sesakkan hembus napas

Penuhkan harap

Dalam rongga rusuk sempit


Dalam tiap duka

Sayatkan kenangan pahit

Syaratkan terluka kembali

Habiskan janji kosong

Dengan sesal yang membunuh


Dalam tiap dosa

Di mana hawa dan nafsu bercumbu

Berikan stigma

Bagai kertas bercat nista

: Jauh dari suci


Dalam tiap waktu

Dari ruh hingga jasadnya

Dari tanah hingga humus

Dari dan diakhiri dengan darah

Tangis antarkan kembali


Setahun lima tahun

Terlalu laju

Mengapa bumi berlari begitu cepat?

Biarkanku

Tertinggal di ujung zaman


Inikah hidup?

Penuh sesak dengan doa

Duka

Dosa

Terjejal dalam rentang waktu yang begitu sempit

Sabtu, 14 Mei 2011

Lekuk Senyum

Dalam setiap cintanya

Hela napasnya

Diberikan hanya padaku


Tulus

Lembut

Suci


Dalam hangat jamahnya

Jemari panjang

Menyentuh segala ragu dalam diriku


Tangis

Rintih

Keluh


Terseka peluhnya

Atas segala kasih di dunia

Yang ia himpun hanya untukku


Memoar

Memori

Teringat kembali


Bagai badai menggulung tubuhku

Tumbangkan segala bangga

Menarik rindu yang terbenam nafsu


Beribu kenangan antarkanku

Pada sosok rembulan kala senja

Yang pertama, dan utama


Kulihat

Kuraba

Kusakiti


Entah bagaimna semua kan kutebus

Dosa seorang durhaka

Hina seorang nista


Dingin pusara ingatkanku

Terlalu jauh tuk kembali

Terlalu susah tuk memutar kembali


Terlambat

Tinggalah doa di sela isak kerinduan

Menyebutnya lirih: Ibu




Bontang, 14 Mei 2011

21.03

Krisis persepsi akan JUDUL!

Minggu, 08 Mei 2011

Masihlah Hina

Hujan menemaniku malam ini
Melepas semua rindu yang menyesakkan
Mengakhiri penantian panjang
Menjawab segala tanya dalam duka

Suka menghampiri,
Menjanjikan beribu asa
Memberi semangat tulus yang berkobar
Membebaskan segala jiwa yang terpendam,
Terkubur jauh dalam tanah kelahiran

Kepalaku menantang sang langit kelam
Jemariku bersalaman dengan rintik-rintik kebebasan
Ragaku dipeluk dingin kesenangan
Dunia berdansa dengan sang waktu

Jikalau ada hal sempitkan rongga rusukku
Itulah diri-Nya yang Maha Segalanya
Begitu kunantikan hadir-Nya
Meski kusadar,
Ku belum sanggup bersua dengan-Nya


Bontang, 8 Mei 2011
20.54
Setelah mengikuti Preview The ESQway 165

Kamis, 05 Mei 2011

Keinginan

Hanya ingin Teriak

Memaki

Menunjukkan pada mereka

Jika aku memang bisa

Mereka tak pantas memandangku sebelah mata

Karena aku akan selalu menyiksa mereka

Dengan setiap keberhasilan yang kuraih

Yang hanya bisa buat mereka iri

Salah sendiri tak mau berusaha

Tunjukkan kalau kalian lebih baik dariku

Jangan banyak omong!

Seseorang tak dihargai oleh perkataannya saja

Namun dari kerja kerasnya pula

Bodoh!







Astagfirullah hal azim...

Jumat, 22 April 2011

Resensi Kehidupan

Hidup hanyalah hidup
Diawali tangis
Diakhiri tangis pula

Berawal dari jerit seorang ibu
Berakhir dengan jerit seorang anak

Terawali dengan tubuh basah
Dipenuhi darah
Terakhiri dengan tubuh basah
Dibanjiri tangis

Mengawali dengan segenggam harapan
Mengakhiri dengan segenggam buah harapan

Tak bisa diulang
Tak bisa diputar
Tak bisa ditebak

Berasal dari alam ruh
Kembalilah ia bersama para ruh

Kamis, 21 April 2011

Rahasia Sang Mimpi

Angin berhembus disisiku
Mengantarkanku pada alam penuh keajaiban
Bertemu dengan sang mimpi yang bercerita
Tentang cinta, cita, asa

Alam astral melantunkan harmoni
Nyanyian malaikat-malaikat penjaga lelap
Memberikan ketenangan di tiap sisi
Buatku tak pernah ingin kembali pulang

Sang mimpi berikan penghargaan
Atas sebuah kesetiaan kesakitan selama ini
Diperlihatkannya sang pangeran impian
Sayang beribu sayang,
wajah tampannya ia rahasiakan

Saat kudipulangkannya ke dunia
Tak kuingat lagi siapa dirinya
Hanya tenang yang berbuah harap
Yang tak jarang buatku terisak kala malam


Rindu yang Membunuh,
22.12
21 April 2011

Selasa, 19 April 2011

Akhir Kisah

Aku basah,
Berdiri di bawah hujan yang menghujam
Diterpa angin yang menampar
Terkikis bagai karang tepian
Menangis seakan tak ada lagi esok

Aku retak,
Berdiri di bawah awan yang runtuh
Diterpa bintang yang berguguran
Terserak bagai keping-keping rembulan pecah
Menjerit menyambut sang takdir

Aku musnah,
Berdiri di bawah langit yang tergulung
Diterpa bebatuan pecah panas
Terhempas bagai debu-debu terbang
Menyaksikan dunia yang mengakhiri ceritanya

Aku akhir,
Berdiri di antara kisah dunia
Diterpa ujung zaman yang mengamuk
Terdesak timbangan yang tak seimbang
Menimbang antara dosa dan kebaikan

Minggu, 17 April 2011

Simfoni Semut Merah

Tanah retak kami pijak
Kering renta terhentak
Kadang merintih
Kadang menangis
Kepada kami yang berbaris

Air terlalau geram
Marah, hingga enggan mucul
Atau sekedar menengok
Kerasnya hidup di luar

Mereka yang bertubuh besar itu
Sang "penginjak", "penjilat"
Sang pemerkosa alam kami yang dahulu perawan
Menancapkan kuasanya
Ke tanah gersang yang meronta

Mendangak dan melihat
Hanya itu yang bisa kami perbuat
Kapan mereka ingat?
Tak hanya mereka seorang di sini

Bahkan Sang Pertiwi
Geram melihat tingkah mereka
Tunggu saja,
Hingga Pertiwi menggulung amarahnya

Sabtu, 16 April 2011

Untuk Ibunda

Awan menggulum senyum

Menahan isak tangis suka

Menertawakan duka

Menghina luka


Tanah meronta

Didzolomi beribu cerca

Diperkosa dendam jiwa

Dikutuk amarah luka ibunda


Ibunda telah lelah menonton

Berbagai kebobrokan kami

Yang begitu bodoh

Gila!


Jiwa

Ditukar uang

Uang ditukar cinta

Cinta diperjual-belikan


Ibunda hanya ingin cinta

Tulus bagai kasih-Nya

Putih bagai kapas

Tak ternoda


Kapan kiranya

Ibunda dapat tersenyum

Melihat cinta tersebar mekar

Di atas tubuhnya yang penuh luka

Hujan Bukan Pelangi

Betapa kurindukan hujan saat ini
Rintik air yang menari
Gemuruh air yang bernyanyi
Temaniku menghujani diriku sendiri
Membasahi hati yang tersayat rindu

Pelangi tersenyum, hujan t'lah puas mengguyur
Hanya saja...
Ku tak butuh pelangi atau senyum
Di hidupku...
Tak pernah ada senyum setelah tangis

Betapa kurindukan hujan kala itu
Awan mendung yang menyelimuti
Gemuruh guntur yang berdendang
Temani tetes air mata yang terlupakan

Jumat, 15 April 2011

Cermin-Cermin Bening

Tiga tahun berlalu begitu cepat
Satu-persatu kartumu terbuka
Keahlianmu terlihat
Kehebatanmu terumbar
Kejelekanmu terekam
Kebobrokanmu tersebar

Ketika kau mulai panik menanyakan,
"Siapa yang menyebarnya? Menebarnya?
Membuka semua kartuku?"

Jelas tak ada yang mau menjawabnya
Tak ada yang berani menjawabnya
Karena engkaulah sendiri yang membukanya
Memperlihatkan semuanya kepada kami

Di satu sisi, kami bangga akan Anda
Di sisi lainnya, kami kecewa terhadap Anda
Apa salahnya kami berpendapat?
Bukankah kami bebas berpendapat?

Pribadi engkau tercermin
Dalam tiap langkah yang kau ambil
Kami hanyalah bisa berpendapat
Dan mungkin menghakimi bukan siapa pun

Rentang Rintangan

Dingin angin berhembus
Mengusik relungku yang menangis
Meringkuk di pojok kesedihan
Terhempas ombak kepasrahan

Berentang rintangan di jalanku
Sedikit kulangkahkan kaki,
Berjuta kilat kudapati
Buatku tersungkur di tanah kalbu

Tak tahu apa yang 'kan bantuku berdiri
Aku tak punya pegangan,
Selain doa-doa beribu bahasa
Yang kupanjatkan tiap kuterjatuh

Tak tahu kapan sang waktu 'kan menolong
Aku tak punya harapan,
Selain doa-doa beribu pinta
Yang kuminta Ia 'tuk mendengar

Di batas rintangan itu terentang
Aku terbujur kaku
Tertinggal di negeri kesedihan
Tanpa doa
Tanpa harap



Yang berharap,
Kamis, 14 April 2011
10.59

Rabu, 13 April 2011

Republik Ulat Bulu

Gatal! Gatal! Gatal!
Semua badanku gatal!

Gatal tanganku ingin meninjunya
Disiksanya orang lain
Demi kepentingannya sendiri
Tugas memang tugas
Namun, apa begitu caranya menagih pada seseorang?

Gatal mataku melihatnya
Diwarnainya kertas-kertas bernilai milyaran itu
Semua diwarnai dengan warna hitam
Gelap!

Gatal telingaku mendengarnya
Dibuatnya uang rakyat untuk membangun gedung mewah
Gedung besar bertingkat-tingkat
Apartemen mahal yang isinya hanya seperangkat meja

Apa yang salah dengan negeri ini?
Di mana-mana membuat ulah
Di mana-mana membuat gatal

Pantas saja dihuni beribu ulat bulu
Karena memang ini Republik Ulat Bulu

Jenuh

Tiap detik, waktu, hari
Kuhabiskan hanya untuk menontonmu
Menontonmu dalam pikiran kosongku
Lupakan kau lupakan kau
Adalah hal paling susah untuk kulakukan
Bosan aku,
Menonton pentas monotonmu

Jumat, 08 April 2011

Petir Kencana

Terbatas laut, tinggi-tinggi besi menjulang
Terbingkai kelam, langit malam mengenang

Sosok gagah tegar lewat
Membelahku bagai jenawi
Langit malam menjerit
Seberkas cahaya terseruak

Sang kencana tak berkuda
Hanya nyawa terbawa tercecer
Bercak emas jatuh menjejak
Hangus tercium semerbak

Kala ia menyentuh kakiku
Teriakan menggema bersamaku
Sebuah doa t'lah tersampaikan
Terkutuk seorang anak dipangkuan ibunda

Terbatas laut, tinggi-tinggi tembok membenteng
Terbingkai kelam, langit malam mengenang

Minggu, 03 April 2011

Puisi

Tertumpuk dalam sudut ruangan
Tak terbagi, tak terjangkau

Sendiri

Menangis

Meratap

Tertumpuk dalam sebuah buku
Tertulis, terbaca


Minggu, 3 April 2011 20.56

Sendiri

Tak ada yang harus kubagi
Biarkan semua itu kunikmati sendiri
Rasa sakit dan penyesalan
Tawa dan tangis
Perih dan nyeri
Sendiri



Minggu, 3 April 2011 20.49

Sabtu, 02 April 2011

Antara Bambu dan Pensil

Enam puluh enam tahun lalu,
Di balik semak, berteman ilalang
Dilindungi doa ibunda
Digerayangi keringat ketakutan

Enam puluh enam tahun kemudian,
Di balik meja, berteman kertas
Diiringi doa ibunda
Digerayangi keringat ketakutan

Mereka berjuang, berdoa, dan berharap
Demi Sang Negeri yang tak pernah merdeka
Demi sang ibu yang haus akan kebebasan
Mereka berjuang, berdoa, dan berharap

Enam puluh enam tahun lalu,
Berbekal semangat, menggenggam bambu kuning
Menyerahkan tangis darah jiwa
Mengharap sebuah kata "merdeka"

Enam puluh enam tahun kemudian,
Berbekal ilmu, menggenggam batang pensil
Menyerahkan tangis keringat jiwa
Mengharap sebuah kata "lulus"

Mereka memiliki tujuan yang sama
Memerdekakan Sang Bangsa yang tak pernah merdeka
Memerdekakan sang ibu dari segala keterpurukan
Mereka benar miliki tujuan yang sama



Bontang, 2 April 2011 22.45