Rabu, 19 Oktober 2011
Penyakit
Pada diriku ini
yang terlindas kasta
tergilas ketidak pastian hukum
Maka lebih baik mati saja aku
Mungkin aku salah
Namun aku hanya ingin lanjutkan hidup
Dengan sebuah pisang mentah
Yang kupetik dari kebun sebelah
Namun bukan kenyang kudapat
Lainkan siksa aku terjerat
Terisolasi dalam bui besi
Jikalau hukum negeri ini
sudah bisa dijual-dibeli
Bagaimana nasibku ini
tak mungkin membeli barang sepasal
Maka lebih baik mati saja aku
Memang sudah penyakit negeri ini
Kaum kecil tak sama dengan 'wong gede'
Sebuah pisang tak sama dengan semiliar rupiah!
Yang satu dibayar setahun penjara
Yang satunya lagi
dibayar tak masuk penjara!
Mungkin aku memang miskin
Mungkin salah orang tuaku yang miskin
Mungkin salah buyutku yang juga miskin
Mungkin salah pemerintah
Di mana nasib orang miskin tidak bisa diubah!
Jikalau tak ada lagi yang peduli
Pada diriku ini
yang terlindas kasta
tergilas ketidak pastian hukum
Maka lebih baik mati saja aku
Kamis, 29 September 2011
Pesisir Merindu
Pulang menghambur mesra dalam belai lembut karang
Hanyutkan kuarsa dalam tiap rindu yang terpuaskan
Seperti halnya aku yang menunggumu
Setia tanamkan kaki dalam butir-butir pasir
Merenda waktu sepanjang pesisir
Andai kau datang sesering ombak menyisir
Aku ini bak pantai kering
Laut mati
Tak berair, tak berarus
Kering kerontang menunggumu berlabuh padaku
Basuh sakit akan luka menganga ini
Mungkinkah kau kembali?
Dari balik gunung es di ujung dunia
Mengembun terbawa angin pasat?
Atau menjelma engkau sebagai La Nina
Banjiri pusat hatiku yang kemarau?
Entah apa yang harus kulakukan
'Tuk buatmu kembali bersandar
Dalam tiap buih-buih kasih
Yang tersimpan hanya untukmu
Walau seratus tahun harusku menunggu
Aku tak peduli
Meski doaku tiada lagi didengar-Nya
Aku tetap tidak peduli
Senin, 05 September 2011
Ziarah
Jejakkan sengsara pada pertiwi
Tuntun semua luka
Berlabuh dalam liang lahat
Semua luka itu
Kubawa mati
Tak sisakan untukmu
Atau juga turunanmu
Apa kau mulai rindukan aku?
Maka temanilah aku
Bermain dengan siksa dan sepi
Bernyanyi dalam jerit serta tangis
Sirami aku
Yang kering keronta
Dengan tangis zikirmu
Kumenunggu semua doamu
Selasa, 16 Agustus 2011
Lagu Merdeka
Ia terkesiap dengar cucunya dendangkan
Lagu Merdeka dengan sungaunya
Hantarkan memori berpuluh tahun lalu
Damparkan hati pada langit merah lautan api
Desing bedil yang muntahkan timah
panas
Tembus segala asa, tumbangkan segala harap
tewas
Dalam balut Merah-Putih sobek
Tangannya gemetar pegang senapan besi dingin
Kemarin ia duduk di bangku kayu simak gurunya jelaskan politik
Sekarang ia berdiri dalam medan perebutan poilitik
Mencari kata merdeka dalam semak penuh ranjau
Matanya nanar tatap setiap jiwa yang terenggut
Ia ingat benar, teman sebangkunya jadi korban
Kepalanya bolong tertembus timah panas
“Merdekaaa!” pekik keturunan ketiganya
Bangunkan ia dari kenangan perih puluh tahun silam
Ia raba medali yang dahulu tersemat di dada
Bangga nan perih tercampur teraduk
- Jiwaku telah hilang enam puluh enam tahun silam
Membaur menyatu dalam tiap Merah-Putih yang berkibar
Menjiwa dalam tiap kata merdeka yang terseru.
Aida Fadhilah,
Teruntuk mereka yang merdekakan kami Bontang, 16 Agustus 2011
Sabtu, 16 Juli 2011
Hujan Tlah Pulang
Betapa kurindu suara merdu itu
Nan gemericik
jatuh di atas rerumput hijau
Nan deras
mengguyur atap-atap rumah
Basah aku
Dalam peluk rindumu
Kamis, 14 Juli 2011
Bukan Rumiyati (Kisah Lain)
Hal yang sama pada orang yang sama
Padaku
Tentangku
Bersalahkah aku tentang itu semua?
Nyawa itu melayang tak sepenuhnya salahku kan?
Aku hanya membela diriku
Karena kubosan disiksa!
Dilecehkan seakan aku pelacur
Diinjak seakan aku seekor semut tak berdaya
Itu, bukan salahku bukan?
Pantaskah aku terima semua ini?
Kebebasan yang telah lama kunantikan
Tanah air yang telah lama kurindukan
Sanak saudara yang telah lama kukehilangan
Mellihat semua di atas
Aku memang pantas menerimanya
Pertanyaan selanjutnya:
Bagaimana nasib saudaraku yang lain di sana?
Di perantauan padang pasir panas
Yang membakar setiap asa yang telah tertanam dalam
dari tanah kelahiran hingga tumbuh
meraih tanah yang katanya suci itu
Kudengar tangis mereka
Menunggu 'tuk membayar kesalahan yang tak sepenuhnya salah mereka
Dengan darah dan nadi yang terputus
Dengan paru-paru yang tak lagi hembuskan kehidupan
Dengan jantung yang tak berdenyut, mati
Kapan mereka seberuntung diriku?
Kapan mereka pulang ke tanah pusaka ini?
Kapan mereka merdeka dari kata "perbudakan"?
Semua tanya terulang di benakku
Hanya terjawab dengan tangis sesak diriku
Tanpa apa-apa yang dapat kulakukan
14 Juli 2011
Mengenang Para Pahlawan Devisa (TKI) yang tak sempat labuhkan segala duka dan derita pada Tanah Pusaka
Selasa, 14 Juni 2011
Pesan Kala Subuh
Akhiri malam penantianku yang panjang
Sudahi segala resah dan keraguan
Diantara bulan yang masih tampakkan sinarnya
Aku berdiri berpayung segala kesah
Resah menantimu pulang:
Berlabuh kembali pada jiwaku yang hampir karam
Ditemani tampiasan ombak
Memandikanku hingga suci dari segala harap
Menyuapi air garam kenyataan
Mengikis segala cita yang dahulu terbentang
Bayang rembulan terpantul di laut lepas
Sebagaimana refleksiku terlihat jelas di atas genang air asin
Aku telah renta dan tua
Wajahku keriput, tak lagi mekar bak mawar merah
Telah layu dan siap menjadi humus:
diuraikan makhluk-makhluk kecil penghuni tanah
Ini aku, Nak
Menunggumu tiap subuh menjelang
Mengingat lekat-lekat bagaimana kau tinggalkan
tanah lahir hingga besarmu
Melantunkan janjimu 'tuk pulang ke pelukanku
Di saat yang sama, kala subuh
Berpuluh tahun ku menunggumu
Tak jua kau bersandar dalam pelukanku
Berliter peluh saksikan teguhnya aku
Menunggumu kembali ke negerimu
Pulanglah, Nak
Sebelum ibumu ini berpulang
Bontang, 14 Juni 2011
4.33
Senin, 06 Juni 2011
Pengais Malam
Yang terselip di balik ilalang
Mengingatkan bahwa malam sedang tak bertuan :
Tak berembulan
Seorang tua mengais lirih
Sela-sela rami
Mencari seekor jangkrik kecil
'Tuk dijadikannya teman makan malam
Tangannya menangkap satu ekor
Ia bersorak girang
Sayang berjuta kenang
Sang jangkrik lepas, tinggal kenangan
Ia rubuh di antara kelam sang malam
Tubuhnya menggigil
Sementara perutnya bernyanyi
kalahkan orkes para jangkrik
Bintang berhenti bersinar
Tangisnya jatuh basahi tubuh yang tak berdaya
Kini mengenang Sang Pengais Malam
Yang bahkan tak tahu kapan malam
Baginya
Setiap saat adalah malam
Yang ia rasakan hanyalah dingin
Kelam
Gelap sang gulita
Ia hanya ingin
Mencari malam
di antara tumpukan malam-malam
kelamnya
Minggu, 05 Juni 2011
Kolong Langit
Basahi ubun-ubunku yang telah lama rindukan
segala kenangan indah
Yang kini tumbuh kembali
Menyeruak dalam rongga rusukku
Terhitung bertahun lalu
Berbulan lalu
Berminggu lalu
Berhari lalu
Ketika gelak tawa memecah malam
Di mana resmi aku menjadi bagian sebuah keluarga
yang tak pernah bisa terceraikan
Tidak bisa dipisahkan
Beribu pelajaran dan teriakan
akan kebenaran tentang keadilan
Teralun bersama tabuhan jimbae
Serta riuh rendah caci maki yang mendera
Tanya aku
Maka kudiajarkan untuk tak peduli
Telah kukatakan kenyataan yang benar
Dan tak pernah ku 'kan menjilat liurku itu
Cacilah
Makilah
Aku hanya teriakkan kebenaran
Hidup hanyalah panggung sandiwara
Namun di kolong langit ini
Ku belajar untuk tak berbohong pada diri sendiri
Meski beribu topeng kupakai
Tak satupun dusta kuucap
Semua nyata!
Karena dari awal
Aku hanya diajarkan
Tentang kebenaran
Beribu buah telah kupetik kini
Manis masam itulah hidup
Walau terakui
Begitu manis hasil pelajaran ini
Sabtu, 04 Juni 2011
Larilah Ibu
Tumbangkan segala tiang kehidupan
Tempatku dibesarkan olehmu
Dalam tiap tangis dan tawa yang menghidupiku
Di mana teror menjadi makanan utamaku
Tersusui oleh ketakutan akan kematian
Kini ku berdiri di depanmu
Yang teramat berarti bagi jiwaku
Hingga kutahu alasanku
untuk menantang semua maut :
membunuhku dalam kesetiaan
Mereka semakin dekat,
Ibu
Larilah!
Relakanlah putramu berbalas budi
Meski jasamu 'kan selalu terhutang dalam darahku
Gergaji menghunus setiap asa
Tumbang
Satu demi satu menghantam jiwa-jiwa yang tak teranggap
Aku masih berdiri
Di depan ibu yang menangisiku
Derak reranting pepohonan dan dedaun jatuh
Terserak di atas tanah kering yang menjerit
Diiringi teriakan kumbang yang meminta ampun
Serta para enggang yang mengutuk
Sampailah mereka di hadapanku
Satu-satunya satwa yang bertahan di tengah hancurnya hutan kami!
Mereka pandangi aku seolah jamur di atas kayu lapuk
Satu gerakan, maka tamatlah riwayatku :
Seekor orang utan mati di genggaman manusia tak berhati
Larilah, Ibu
Biarkan putramu berbalas budi
Meski tak 'kan sanggup terbalas semua jasa
Nyawaku,
Hadiah terakhir untukmu
Pelatuk senapan pun menghentak
Selasa, 31 Mei 2011
Pentas Malam
Menari bersama bintang yang tak berhenti mengedipkan mata
Ditemani alunan tembang ciptaan tuan jangkrik sang maestro
Luput dalam waktu yang semakin larut
Menghilang di tengah kegelapan malam
Dituntun oleh kedamaian jiwa yang menyenangkan
Turut dalam malam-malam sang rembulan
Pertunjukan sang langit telah dimulai
Di mana peran utamanya sang ratu malam
Cantik dengan tubuh bulat penuhnya
Bercahaya perak memikat :
Hipnotis tiap pasang mata yang lihatnya
Dan dayangnya para bintang
Begitu cantik
Mengawal ratunya menjelajah langit
Mengelilingi bumi 'tuk memikat segala makhluk
Buat mereka berdecak kagum akan kebesaran Sang Pencipta
Tak akan selesai pentas sepanjang malam
Kecuali karena sang surya kembali dari peraduannya
Sadarkan semua dari terjaganya malam
Mengakhiri pertunjukan sang langit
Sabtu, 21 Mei 2011
Tak Paham Tapi Sayang
Sungguh aku tak mengerti
Tiap kali terputar beribu ingatan
Tentangmu yang terbingkai sakit
Luar biasa
Sesakkan rongga rusukku
Jemariku terasa di tusuk beribu jarum
Saat senyum terkembang di rautmu
Nyeri
Seakan darah mengalir diantara buku jari
Dan genggamanmu
Tertinggal di telapakku
Buatku sesak
Tiap rasa itu penuhi angan
Rasa apa ini?
Aku memang tak mengerti
Hanya saja aku
Terlalu sayang tuk lupakannya
Selasa, 17 Mei 2011
Rentang Waktu
Dalam tiap doa
Yang sesakkan hembus napas
Penuhkan harap
Dalam rongga rusuk sempit
Dalam tiap duka
Sayatkan kenangan pahit
Syaratkan terluka kembali
Habiskan janji kosong
Dengan sesal yang membunuh
Dalam tiap dosa
Di mana hawa dan nafsu bercumbu
Berikan stigma
Bagai kertas bercat nista
: Jauh dari suci
Dalam tiap waktu
Dari ruh hingga jasadnya
Dari tanah hingga humus
Dari dan diakhiri dengan darah
Tangis antarkan kembali
Setahun lima tahun
Terlalu laju
Mengapa bumi berlari begitu cepat?
Biarkanku
Tertinggal di ujung zaman
Inikah hidup?
Penuh sesak dengan doa
Duka
Dosa
Terjejal dalam rentang waktu yang begitu sempit
Sabtu, 14 Mei 2011
Lekuk Senyum
Dalam setiap cintanya
Hela napasnya
Diberikan hanya padaku
Tulus
Lembut
Suci
Dalam hangat jamahnya
Jemari panjang
Menyentuh segala ragu dalam diriku
Tangis
Rintih
Keluh
Terseka peluhnya
Atas segala kasih di dunia
Yang ia himpun hanya untukku
Memoar
Memori
Teringat kembali
Bagai badai menggulung tubuhku
Tumbangkan segala bangga
Menarik rindu yang terbenam nafsu
Beribu kenangan antarkanku
Pada sosok rembulan kala senja
Yang pertama, dan utama
Kulihat
Kuraba
Kusakiti
Entah bagaimna semua kan kutebus
Dosa seorang durhaka
Hina seorang nista
Dingin pusara ingatkanku
Terlalu jauh tuk kembali
Terlalu susah tuk memutar kembali
Terlambat
Tinggalah doa di sela isak kerinduan
Menyebutnya lirih: Ibu
Bontang, 14 Mei 2011
21.03
Krisis persepsi akan JUDUL!
Minggu, 08 Mei 2011
Masihlah Hina
Melepas semua rindu yang menyesakkan
Mengakhiri penantian panjang
Menjawab segala tanya dalam duka
Suka menghampiri,
Menjanjikan beribu asa
Memberi semangat tulus yang berkobar
Membebaskan segala jiwa yang terpendam,
Terkubur jauh dalam tanah kelahiran
Kepalaku menantang sang langit kelam
Jemariku bersalaman dengan rintik-rintik kebebasan
Ragaku dipeluk dingin kesenangan
Dunia berdansa dengan sang waktu
Jikalau ada hal sempitkan rongga rusukku
Itulah diri-Nya yang Maha Segalanya
Begitu kunantikan hadir-Nya
Meski kusadar,
Ku belum sanggup bersua dengan-Nya
Bontang, 8 Mei 2011
20.54
Setelah mengikuti Preview The ESQway 165
Kamis, 05 Mei 2011
Keinginan
Memaki
Menunjukkan pada mereka
Jika aku memang bisa
Mereka tak pantas memandangku sebelah mata
Karena aku akan selalu menyiksa mereka
Dengan setiap keberhasilan yang kuraih
Yang hanya bisa buat mereka iri
Salah sendiri tak mau berusaha
Tunjukkan kalau kalian lebih baik dariku
Jangan banyak omong!
Seseorang tak dihargai oleh perkataannya saja
Namun dari kerja kerasnya pula
Bodoh!
Astagfirullah hal azim...
Jumat, 22 April 2011
Resensi Kehidupan
Diawali tangis
Diakhiri tangis pula
Berawal dari jerit seorang ibu
Berakhir dengan jerit seorang anak
Terawali dengan tubuh basah
Dipenuhi darah
Terakhiri dengan tubuh basah
Dibanjiri tangis
Mengawali dengan segenggam harapan
Mengakhiri dengan segenggam buah harapan
Tak bisa diulang
Tak bisa diputar
Tak bisa ditebak
Berasal dari alam ruh
Kembalilah ia bersama para ruh
Kamis, 21 April 2011
Rahasia Sang Mimpi
Mengantarkanku pada alam penuh keajaiban
Bertemu dengan sang mimpi yang bercerita
Tentang cinta, cita, asa
Alam astral melantunkan harmoni
Nyanyian malaikat-malaikat penjaga lelap
Memberikan ketenangan di tiap sisi
Buatku tak pernah ingin kembali pulang
Sang mimpi berikan penghargaan
Atas sebuah kesetiaan kesakitan selama ini
Diperlihatkannya sang pangeran impian
Sayang beribu sayang,
wajah tampannya ia rahasiakan
Saat kudipulangkannya ke dunia
Tak kuingat lagi siapa dirinya
Hanya tenang yang berbuah harap
Yang tak jarang buatku terisak kala malam
Rindu yang Membunuh,
22.12
21 April 2011
Selasa, 19 April 2011
Akhir Kisah
Berdiri di bawah hujan yang menghujam
Diterpa angin yang menampar
Terkikis bagai karang tepian
Menangis seakan tak ada lagi esok
Aku retak,
Berdiri di bawah awan yang runtuh
Diterpa bintang yang berguguran
Terserak bagai keping-keping rembulan pecah
Menjerit menyambut sang takdir
Aku musnah,
Berdiri di bawah langit yang tergulung
Diterpa bebatuan pecah panas
Terhempas bagai debu-debu terbang
Menyaksikan dunia yang mengakhiri ceritanya
Aku akhir,
Berdiri di antara kisah dunia
Diterpa ujung zaman yang mengamuk
Terdesak timbangan yang tak seimbang
Menimbang antara dosa dan kebaikan
Minggu, 17 April 2011
Simfoni Semut Merah
Kering renta terhentak
Kadang merintih
Kadang menangis
Kepada kami yang berbaris
Air terlalau geram
Marah, hingga enggan mucul
Atau sekedar menengok
Kerasnya hidup di luar
Mereka yang bertubuh besar itu
Sang "penginjak", "penjilat"
Sang pemerkosa alam kami yang dahulu perawan
Menancapkan kuasanya
Ke tanah gersang yang meronta
Mendangak dan melihat
Hanya itu yang bisa kami perbuat
Kapan mereka ingat?
Tak hanya mereka seorang di sini
Bahkan Sang Pertiwi
Geram melihat tingkah mereka
Tunggu saja,
Hingga Pertiwi menggulung amarahnya
Sabtu, 16 April 2011
Untuk Ibunda
Awan menggulum senyum
Menahan isak tangis suka
Menertawakan duka
Menghina luka
Tanah meronta
Didzolomi beribu cerca
Diperkosa dendam jiwa
Dikutuk amarah luka ibunda
Ibunda telah lelah menonton
Berbagai kebobrokan kami
Yang begitu bodoh
Gila!
Jiwa
Ditukar uang
Uang ditukar cinta
Cinta diperjual-belikan
Ibunda hanya ingin cinta
Tulus bagai kasih-Nya
Putih bagai kapas
Tak ternoda
Kapan kiranya
Ibunda dapat tersenyum
Melihat cinta tersebar mekar
Di atas tubuhnya yang penuh luka
Hujan Bukan Pelangi
Rintik air yang menari
Gemuruh air yang bernyanyi
Temaniku menghujani diriku sendiri
Membasahi hati yang tersayat rindu
Pelangi tersenyum, hujan t'lah puas mengguyur
Hanya saja...
Ku tak butuh pelangi atau senyum
Di hidupku...
Tak pernah ada senyum setelah tangis
Betapa kurindukan hujan kala itu
Awan mendung yang menyelimuti
Gemuruh guntur yang berdendang
Temani tetes air mata yang terlupakan
Jumat, 15 April 2011
Cermin-Cermin Bening
Satu-persatu kartumu terbuka
Keahlianmu terlihat
Kehebatanmu terumbar
Kejelekanmu terekam
Kebobrokanmu tersebar
Ketika kau mulai panik menanyakan,
"Siapa yang menyebarnya? Menebarnya?
Membuka semua kartuku?"
Jelas tak ada yang mau menjawabnya
Tak ada yang berani menjawabnya
Karena engkaulah sendiri yang membukanya
Memperlihatkan semuanya kepada kami
Di satu sisi, kami bangga akan Anda
Di sisi lainnya, kami kecewa terhadap Anda
Apa salahnya kami berpendapat?
Bukankah kami bebas berpendapat?
Pribadi engkau tercermin
Dalam tiap langkah yang kau ambil
Kami hanyalah bisa berpendapat
Dan mungkin menghakimi bukan siapa pun
Rentang Rintangan
Mengusik relungku yang menangis
Meringkuk di pojok kesedihan
Terhempas ombak kepasrahan
Berentang rintangan di jalanku
Sedikit kulangkahkan kaki,
Berjuta kilat kudapati
Buatku tersungkur di tanah kalbu
Tak tahu apa yang 'kan bantuku berdiri
Aku tak punya pegangan,
Selain doa-doa beribu bahasa
Yang kupanjatkan tiap kuterjatuh
Tak tahu kapan sang waktu 'kan menolong
Aku tak punya harapan,
Selain doa-doa beribu pinta
Yang kuminta Ia 'tuk mendengar
Di batas rintangan itu terentang
Aku terbujur kaku
Tertinggal di negeri kesedihan
Tanpa doa
Tanpa harap
Yang berharap,
Kamis, 14 April 2011
10.59
Rabu, 13 April 2011
Republik Ulat Bulu
Semua badanku gatal!
Gatal tanganku ingin meninjunya
Disiksanya orang lain
Demi kepentingannya sendiri
Tugas memang tugas
Namun, apa begitu caranya menagih pada seseorang?
Gatal mataku melihatnya
Diwarnainya kertas-kertas bernilai milyaran itu
Semua diwarnai dengan warna hitam
Gelap!
Gatal telingaku mendengarnya
Dibuatnya uang rakyat untuk membangun gedung mewah
Gedung besar bertingkat-tingkat
Apartemen mahal yang isinya hanya seperangkat meja
Apa yang salah dengan negeri ini?
Di mana-mana membuat ulah
Di mana-mana membuat gatal
Pantas saja dihuni beribu ulat bulu
Karena memang ini Republik Ulat Bulu
Jenuh
Kuhabiskan hanya untuk menontonmu
Menontonmu dalam pikiran kosongku
Lupakan kau lupakan kau
Adalah hal paling susah untuk kulakukan
Bosan aku,
Menonton pentas monotonmu
Jumat, 08 April 2011
Petir Kencana
Terbingkai kelam, langit malam mengenang
Sosok gagah tegar lewat
Membelahku bagai jenawi
Langit malam menjerit
Seberkas cahaya terseruak
Sang kencana tak berkuda
Hanya nyawa terbawa tercecer
Bercak emas jatuh menjejak
Hangus tercium semerbak
Kala ia menyentuh kakiku
Teriakan menggema bersamaku
Sebuah doa t'lah tersampaikan
Terkutuk seorang anak dipangkuan ibunda
Terbatas laut, tinggi-tinggi tembok membenteng
Terbingkai kelam, langit malam mengenang
Minggu, 03 April 2011
Puisi
Tak terbagi, tak terjangkau
Sendiri
Menangis
Meratap
Tertumpuk dalam sebuah buku
Tertulis, terbaca
Minggu, 3 April 2011 20.56
Sendiri
Biarkan semua itu kunikmati sendiri
Rasa sakit dan penyesalan
Tawa dan tangis
Perih dan nyeri
Sendiri
Minggu, 3 April 2011 20.49
Sabtu, 02 April 2011
Antara Bambu dan Pensil
Di balik semak, berteman ilalang
Dilindungi doa ibunda
Digerayangi keringat ketakutan
Enam puluh enam tahun kemudian,
Di balik meja, berteman kertas
Diiringi doa ibunda
Digerayangi keringat ketakutan
Mereka berjuang, berdoa, dan berharap
Demi Sang Negeri yang tak pernah merdeka
Demi sang ibu yang haus akan kebebasan
Mereka berjuang, berdoa, dan berharap
Enam puluh enam tahun lalu,
Berbekal semangat, menggenggam bambu kuning
Menyerahkan tangis darah jiwa
Mengharap sebuah kata "merdeka"
Enam puluh enam tahun kemudian,
Berbekal ilmu, menggenggam batang pensil
Menyerahkan tangis keringat jiwa
Mengharap sebuah kata "lulus"
Mereka memiliki tujuan yang sama
Memerdekakan Sang Bangsa yang tak pernah merdeka
Memerdekakan sang ibu dari segala keterpurukan
Mereka benar miliki tujuan yang sama
Bontang, 2 April 2011 22.45