Menunggu subuh
Akhiri malam penantianku yang panjang
Sudahi segala resah dan keraguan
Diantara bulan yang masih tampakkan sinarnya
Aku berdiri berpayung segala kesah
Resah menantimu pulang:
Berlabuh kembali pada jiwaku yang hampir karam
Ditemani tampiasan ombak
Memandikanku hingga suci dari segala harap
Menyuapi air garam kenyataan
Mengikis segala cita yang dahulu terbentang
Bayang rembulan terpantul di laut lepas
Sebagaimana refleksiku terlihat jelas di atas genang air asin
Aku telah renta dan tua
Wajahku keriput, tak lagi mekar bak mawar merah
Telah layu dan siap menjadi humus:
diuraikan makhluk-makhluk kecil penghuni tanah
Ini aku, Nak
Menunggumu tiap subuh menjelang
Mengingat lekat-lekat bagaimana kau tinggalkan
tanah lahir hingga besarmu
Melantunkan janjimu 'tuk pulang ke pelukanku
Di saat yang sama, kala subuh
Berpuluh tahun ku menunggumu
Tak jua kau bersandar dalam pelukanku
Berliter peluh saksikan teguhnya aku
Menunggumu kembali ke negerimu
Pulanglah, Nak
Sebelum ibumu ini berpulang
Bontang, 14 Juni 2011
4.33
Selasa, 14 Juni 2011
Senin, 06 Juni 2011
Pengais Malam
Di antara semburat cahaya bintang
Yang terselip di balik ilalang
Mengingatkan bahwa malam sedang tak bertuan :
Tak berembulan
Seorang tua mengais lirih
Sela-sela rami
Mencari seekor jangkrik kecil
'Tuk dijadikannya teman makan malam
Tangannya menangkap satu ekor
Ia bersorak girang
Sayang berjuta kenang
Sang jangkrik lepas, tinggal kenangan
Ia rubuh di antara kelam sang malam
Tubuhnya menggigil
Sementara perutnya bernyanyi
kalahkan orkes para jangkrik
Bintang berhenti bersinar
Tangisnya jatuh basahi tubuh yang tak berdaya
Kini mengenang Sang Pengais Malam
Yang bahkan tak tahu kapan malam
Baginya
Setiap saat adalah malam
Yang ia rasakan hanyalah dingin
Kelam
Gelap sang gulita
Ia hanya ingin
Mencari malam
di antara tumpukan malam-malam
kelamnya
Yang terselip di balik ilalang
Mengingatkan bahwa malam sedang tak bertuan :
Tak berembulan
Seorang tua mengais lirih
Sela-sela rami
Mencari seekor jangkrik kecil
'Tuk dijadikannya teman makan malam
Tangannya menangkap satu ekor
Ia bersorak girang
Sayang berjuta kenang
Sang jangkrik lepas, tinggal kenangan
Ia rubuh di antara kelam sang malam
Tubuhnya menggigil
Sementara perutnya bernyanyi
kalahkan orkes para jangkrik
Bintang berhenti bersinar
Tangisnya jatuh basahi tubuh yang tak berdaya
Kini mengenang Sang Pengais Malam
Yang bahkan tak tahu kapan malam
Baginya
Setiap saat adalah malam
Yang ia rasakan hanyalah dingin
Kelam
Gelap sang gulita
Ia hanya ingin
Mencari malam
di antara tumpukan malam-malam
kelamnya
Minggu, 05 Juni 2011
Kolong Langit
Setitik kenangan jatuh
Basahi ubun-ubunku yang telah lama rindukan
segala kenangan indah
Yang kini tumbuh kembali
Menyeruak dalam rongga rusukku
Terhitung bertahun lalu
Berbulan lalu
Berminggu lalu
Berhari lalu
Ketika gelak tawa memecah malam
Di mana resmi aku menjadi bagian sebuah keluarga
yang tak pernah bisa terceraikan
Tidak bisa dipisahkan
Beribu pelajaran dan teriakan
akan kebenaran tentang keadilan
Teralun bersama tabuhan jimbae
Serta riuh rendah caci maki yang mendera
Tanya aku
Maka kudiajarkan untuk tak peduli
Telah kukatakan kenyataan yang benar
Dan tak pernah ku 'kan menjilat liurku itu
Cacilah
Makilah
Aku hanya teriakkan kebenaran
Hidup hanyalah panggung sandiwara
Namun di kolong langit ini
Ku belajar untuk tak berbohong pada diri sendiri
Meski beribu topeng kupakai
Tak satupun dusta kuucap
Semua nyata!
Karena dari awal
Aku hanya diajarkan
Tentang kebenaran
Beribu buah telah kupetik kini
Manis masam itulah hidup
Walau terakui
Begitu manis hasil pelajaran ini
Basahi ubun-ubunku yang telah lama rindukan
segala kenangan indah
Yang kini tumbuh kembali
Menyeruak dalam rongga rusukku
Terhitung bertahun lalu
Berbulan lalu
Berminggu lalu
Berhari lalu
Ketika gelak tawa memecah malam
Di mana resmi aku menjadi bagian sebuah keluarga
yang tak pernah bisa terceraikan
Tidak bisa dipisahkan
Beribu pelajaran dan teriakan
akan kebenaran tentang keadilan
Teralun bersama tabuhan jimbae
Serta riuh rendah caci maki yang mendera
Tanya aku
Maka kudiajarkan untuk tak peduli
Telah kukatakan kenyataan yang benar
Dan tak pernah ku 'kan menjilat liurku itu
Cacilah
Makilah
Aku hanya teriakkan kebenaran
Hidup hanyalah panggung sandiwara
Namun di kolong langit ini
Ku belajar untuk tak berbohong pada diri sendiri
Meski beribu topeng kupakai
Tak satupun dusta kuucap
Semua nyata!
Karena dari awal
Aku hanya diajarkan
Tentang kebenaran
Beribu buah telah kupetik kini
Manis masam itulah hidup
Walau terakui
Begitu manis hasil pelajaran ini
Sabtu, 04 Juni 2011
Larilah Ibu
Bagai badai menghantam pertiwi
Tumbangkan segala tiang kehidupan
Tempatku dibesarkan olehmu
Dalam tiap tangis dan tawa yang menghidupiku
Di mana teror menjadi makanan utamaku
Tersusui oleh ketakutan akan kematian
Kini ku berdiri di depanmu
Yang teramat berarti bagi jiwaku
Hingga kutahu alasanku
untuk menantang semua maut :
membunuhku dalam kesetiaan
Mereka semakin dekat,
Ibu
Larilah!
Relakanlah putramu berbalas budi
Meski jasamu 'kan selalu terhutang dalam darahku
Gergaji menghunus setiap asa
Tumbang
Satu demi satu menghantam jiwa-jiwa yang tak teranggap
Aku masih berdiri
Di depan ibu yang menangisiku
Derak reranting pepohonan dan dedaun jatuh
Terserak di atas tanah kering yang menjerit
Diiringi teriakan kumbang yang meminta ampun
Serta para enggang yang mengutuk
Sampailah mereka di hadapanku
Satu-satunya satwa yang bertahan di tengah hancurnya hutan kami!
Mereka pandangi aku seolah jamur di atas kayu lapuk
Satu gerakan, maka tamatlah riwayatku :
Seekor orang utan mati di genggaman manusia tak berhati
Larilah, Ibu
Biarkan putramu berbalas budi
Meski tak 'kan sanggup terbalas semua jasa
Nyawaku,
Hadiah terakhir untukmu
Pelatuk senapan pun menghentak
Tumbangkan segala tiang kehidupan
Tempatku dibesarkan olehmu
Dalam tiap tangis dan tawa yang menghidupiku
Di mana teror menjadi makanan utamaku
Tersusui oleh ketakutan akan kematian
Kini ku berdiri di depanmu
Yang teramat berarti bagi jiwaku
Hingga kutahu alasanku
untuk menantang semua maut :
membunuhku dalam kesetiaan
Mereka semakin dekat,
Ibu
Larilah!
Relakanlah putramu berbalas budi
Meski jasamu 'kan selalu terhutang dalam darahku
Gergaji menghunus setiap asa
Tumbang
Satu demi satu menghantam jiwa-jiwa yang tak teranggap
Aku masih berdiri
Di depan ibu yang menangisiku
Derak reranting pepohonan dan dedaun jatuh
Terserak di atas tanah kering yang menjerit
Diiringi teriakan kumbang yang meminta ampun
Serta para enggang yang mengutuk
Sampailah mereka di hadapanku
Satu-satunya satwa yang bertahan di tengah hancurnya hutan kami!
Mereka pandangi aku seolah jamur di atas kayu lapuk
Satu gerakan, maka tamatlah riwayatku :
Seekor orang utan mati di genggaman manusia tak berhati
Larilah, Ibu
Biarkan putramu berbalas budi
Meski tak 'kan sanggup terbalas semua jasa
Nyawaku,
Hadiah terakhir untukmu
Pelatuk senapan pun menghentak
Langganan:
Postingan (Atom)