Sabtu, 22 Desember 2012

Jelajah Tak Sampai

Aku ingin menjelajah
Berjalan di atas langit
malam gelap
Berenang dalam samudera
palung dalam

Melihat apa yang tak pernah
kulihat
Merasakan apa yang aku
mati rasa akannya
Menguak apa yang Ia
cipta selain aku
 

Kamis, 13 Desember 2012

Pelangi Malam

Menanti pelangi
tersenyum, percikkan sebuah harapan
di malam-malam kelam
aku

Menunggu hujan
menangis, semburatkan sebuah luka
di siang-siang cerah
aku

Mengobrol dengan-Nya
tentang syukur yang tak kunikmati
tangis yang tak kuperihkan
aku

Bertanya pada-Nya
masihkah hati ini di tempatnya
aku

Bagai pelangi di tengah malam
Hilang dari takdir-Nya
menunggu serta menanti
Pilihan kembali kepada
Ia

Minggu, 30 September 2012

Dengar Sebentar

Di bawah bintang malam ini
Di pangkuan pertiwi ku di sini
Diterangi kasih rembulan
Sujud aku dalam kuasa
Nya

Dengar sebentar Tuhan
Betapa aku butuh belai-Mu
malam ini
Aku butuh kalam-Mu
sunyi ini
Di mana jiwaku yang hanyut
Hendak mencari sebuah labuhan

Katakan padaku kemudian
Tuhan
Ke mana harus kuberlabuh
Selain Engkau malam ini?

Dengar sebentar Tuhan
Betapa aku butuh hilangkan ia
Sesaat dari pikirku
Maka tambatkan aku pada-Mu
Sang pemilik dari segala rasa dunia

Dengar sebentar Tuhan
Keluh kesahku malam ini
Peluk sebentar Tuhan
Hatiku dalam dekap kekal
Mu


-Doa seorang hamba yang merindukan-Nya-

Sabtu, 01 September 2012

Tuhanmu Kawan

Tuhan tahu
Kau yang tertunduk malam ini
yang tertelan isakanmu sendiri
Rindukan pelukan hangatnya
Hilang
Dari sisimu

Tuhan mengerti
Kau kuat
Kawan
Kau hebat
Hingga Ia ujikan ini padamu,
pejuang

Tuhan ijinkan
Para bintang dan rembulan bulat
Doakan ia yang kau sayang malam ini
Agar kau tetap berlari
mengejar mimpimu

Tuhan ciptakan
Ia untuk mencintamu dan kau cinta
Kami tuk genggammu dan kau genggam
Engkau agar kau berdiri teguh dalam jalan lurus-Nya
Jaminkan surga untuk ia
Tersayang, terindukan


Untuk kawanku yang kehilangan ia yang tersayang. Tabah kawan, Tuhan tahu kau mampu menghadapinya. Semoga ia yang kau sayang diterima di sisi-Nya.
01/09/2012

Kamis, 30 Agustus 2012

Willow Tree

Aku menunggumu
Di sini!
Di bawah pohon rindang ini
Di entah di mana pun
empat musim terjadi

Aku menunggumu
Di sini!
Siapa pun engkau nanti
Siapa pun engkau kelak
Di bawah pohon rindang ini

Jadilah sepertinya,
Seorang yang selalu teduhkan jiwaku
Naungi mimpiku
Lindungi imanku

Willow Tree,
Kau bisa kan jadi seperti
pohon ini?

Cerita Tak Berawal

Akhirnya,
Kuharap kau tak sesakit aku
Saat rembulan semalam peluk hatiku
Sementara bintang menghujamnya
Jalan mana yang tersisa untukku?
Kedua kakiku gemetar,
ada rasa tak sanggup tuk tetap berdiri
di sini

Dahulu,
Kuharap kau berbeda dan bisa
Membalas segala rasa yang kuhujani
Bagai hujan yang selalu kunjungi tanahku,
tanpa pamrih
Jalan mana yang tersedia untukmu?
Kau memilih tak pedulikan ringkihnya
posisiku

Awalnya,
Bagai pesawat tempur bising
Belah heningnya malam-malamku
Kau belah ragaku,
jejalkan berbagai hal yang aku tak sanggup
terima
Semua kata sayang itu,
aku tak mengenalnya dapat tercipta
untukku

Cepat,
Terlalu cepat
Ombak menerpa hidupku dari kanan
maupun kiri
Aku lunglai
Tak tahu harus apa

Cepat,
Begitu cepat
Aku rubuh dalam peluk sayang
Dua bukit yang peluk daku
Pertiwi bisikkan sayangnya padaku
Bukan sayang semu yang kau janjikan

Senin, 16 Juli 2012

Wisata Tengah Malam

Sini kutunjukkan
Jika bintang selalu terjaga
Menjaga malam-malammu untukku

Meski rembulan tak selalu penuh,
terkadang ia malu darimu
Ia tak pernah melupakan sinarmu
yang terpantul ke wajahnya
Buat ia terangi jiwamu kala malam

Ikut aku,
dan temui ombak lautan
penuh dengan serdaduku di sana

Cumi dan gurita
kan pelukmu hangat, dengan
delapan tangan mereka

Sedang anemon laut yang gemilang
dalam buaian ombak
jadi petunjuk jalanmu menemuiku
dalam mimpi indahmu

Jangkrik di luar sana tak akan pernah
bosan
Bermain orkes hingga kau
terlelap

Dalam pangkuan-Nya malam ini
Wisata ini berakhir,
Di bawah naungan-Nya
Raja berbagai cara

Dan cara-Nya perlihatkan dunia padamu
Denganku, sang pemandu wisata tengah malam
Inginkan kau selalu percaya pada-Nya

Selasa, 08 Mei 2012

Senandung Malam

Kala malam telanjangkan dirinya
Hingga bintang menyembul eksotis di badannya
Sedang rembulan bulat tergantung di dadanya

Tidurlah ia dalam pangkuan suci,
bukan nafsu

Malam-malam di mana zikir sesakkan Arsy
Ternikmati oleh para malaikat yag selalu terjaga
Doa itu sampai pada Mereka
Akan hidup
yang tak pernah dinikmatinya

Kembali ia dengan bouraq pada pertiwi
Setelah kisah Adam dan Hawa ia saksikan di surga
dalam lelapnya
Maka tanah dingin menyambutnya
Keras batu jalanan membangunkannya

Tidur ia di sisi emper toko
Mendongak ke atas,
senandungkan doa dan zikir malamnya

Minggu, 22 April 2012

Budak Sang Pengkhianat

Biarkan aku merdeka
Dari segala jerat bualmu itu
Aku bukan budakmu,
lalu mengapa kusetia turuti omonganmu?

Kau tak pernah peduli akanku, bukan?
Sihir apa yang kau pakai
agar aku selalu peduli dengamu?
Penyihir kah engkau
berteman dengan kuali panas
dengan larutan darah dan ludah serta nanah
di dalamnya

Ah, bodohkah aku?
Bukan, kau yang terlampau bodoh
Buat apa kau berkhianat
jika hal itu sama sekali tak bawamu ke puncak
dunia
Kau tak tahu?
Kau tak malu?

Dengar!
Mentari dan bulan tertawakan engkau
bersahut-sahutan siang malam
Di mana wajahmu, sayang?
Kau sembunyikan di pusat bumikah?
Ku tanya bumi, dia pun muak kau injak

Sadarlah, sayang!
Sang budak ingin merdeka jua!




Kamis, 19 April 2012

Hamba Bharatayudha

Kau renkarnasi dewa perang
Kisahmu tertulis dalam Bharatayudha
Di mana pedang di tangan kirimu
Sedang keris terselip di pinggangmu

Kau tidak mati dalam pertempuran itu
Malah hidup kembali dalam sosok anggun,
lemah lembut, bertakhta senyum
Aku hambamu, Tuan
Biar kuusap semua darah serta balut semua lukamu

Jika kini semua uji dari-Nya menyakitimu
Ketika kau hendak menyerah kini
Biar aku, Tuan
Menanggung semua beban dan sakitmu

Tuanku,
pengingat akan perang
Percayalah hambamu ini
Biar hamba bebat semua gores serta jilat semua nanah
Biar hamba genggam tangan Tuan saat engkau hendak jatuh

Tuanku,
ini perangmu
Kelak 'kan kau menangkan perang ini Tuan
Jayamu di atas jayaku

Tuanku,
Betapa bangga hambamu
Miliki Tuan setegar engkau




Rabu, 18 April 2012

Banyuwangi

Wahai Tuan,
Tuanku tercinta
Segala kasih dan sayang  yang kau beri
Janganlah lagi kau tanyakan
Bukankah sudah kubalas dengan setia?

Wahai Tuan,
Tuanku terhormat
Segala harta dan citra yang kau curahkan
Janganlah lagi kau berikan
Bukankah ku sudah puas dengan kasihmu?

Jikalau masih Tuan tanyakan
Seberapa besar setia dan cintaku
Bagaimana harus kumenjawab?

Bahkan nyawa ayahandaku kurelakan
tertukar dengan Tuanku tersayang
Bahkan rakyatku kulepaskan
ditukar dengan Tuanku tercinta

Maka tuan,
biarkanlah pertiwi yang menjawab
Biar sungai mewangi membening
Jika memang setiaku lebih dari setiamu

Minggu, 15 April 2012

Bibir Ibu

Ketika bulan tengah menimang malam
Di mana jangkrik siulkan lagu pengantar tidur
Serta doa mengalir lembut lewat bibirnya
Kau tidur dalam pangkuannya
Memimpikan masa depan,
saat kau berdiri di puncak tertinggi
hidupmu

Kini,
Saat sabit tergantung di antara gemintang
Meski angin tampar pepohonan
Doanya tetap di sana,
di atas bibir lembutnya
Kau menangis di pangkuannya
Menyesali hari kemarin
Ditakuti esok yang begitu tentukan
hidupmu

Maka genggamlah tangannya sebentar
Cium lembut telapak tangan suci
yang setia usap air matamu
Sungguh doanya kan setia hantarkan engkau
Pada jalanmu
Percayalah, ia selalu berada di pihakmu
Apa yang 'kan kau hadapi esok serta lusa
Segala doanya masih di sana,
bersemayam di bibirnya

            Ibu,
            doakan aku
            esok, lusa, dan seterusnya



Teruntuk kakak kelasku yang esok 'kan hadapi UAN

Minggu, 18 Maret 2012

Merangkai Takdir (Dalam Doa)

Telah jatuh padaku sebuah kunci
Tuk keluar dari segala rasa yang belengguku ini
Bisakah aku pergi, jauh darimu selamanya?
Benarkah Ia tak takdirkanku untukmu?

Sungguh mimpiku teramat banyak
Terlalu berharga,
Tuk sekedar kuserahkan padamu
semuanya

Biar kusentuh, belai lembut tiap angan itu
Lepas dari perangkapmu tuk sesaat
Dan jika memang Ia takdirkanku untukmu
Biarkan aku jadi seperti yang kuingankan dahulu

Takdir ini, takdirku dalam genggam-Mu
Tuhan, jika harus kujatuh dalam perangkapnya berulang kali
Jika harus kuterperosok dalam jurangnya beribu kali
Jamin aku satu hal, Tuhan
Janjikan hamba sebuah tangan tuk dapat selalu memelukku
kala kuterjatuh lagi

Jaga hamba Tuhan,
Agar selalu jadi seperti yang Engkau inginkan

Sabtu, 03 Maret 2012

Terlalu Dekat

Tadi itu bukan mimpi, kan?

Saat kau di sana
Duduk manis di sampingku
Tidak, bukankah itu terlalu dekat?
Kau tidak dengar degup jantungku kan?
Para pemain snare drum sedang berlomba di sana

Saat kau di sana
Condongkan tubuhmu ke depan
Tidak, bukankah itu terlalu dekat?
Kau tidak sadar jika kuterlalu cepat
menarik tubuhku menjauhimu bukan?
Aku terlalu takut bahkan tuk sedikit nodaimu

Saat kau di sana
Memanggilku dengan merdu
Tidak, bukankah itu terlalu manis
Kau bahkan tak bermaksud menyebut namaku saat itu
Wajahku memerah saat dengar kau salah memanggil orang

Saat kau di sana
Diam
Hingga aku dapat nikmati aroma tubuhmu
Lembut, membelai indra penciumanku
Kau tidak melihatku mendengus seperti anjing bukan?
Itu akan sangat memalukan

Saat kau di sana
Bukankah itu terlalu dekat?
Aku tak bisa lebih dekat denganmu
Aku takut terlalu menginginkanmu, sayang

Selasa, 07 Februari 2012

Mimpi

Ada kala di mana suaramu terngiang di benakku
Menyanyikan lullaby hingga ku tertidur pulas
Mainkan kisah roman hingga ku menangis deras
Tuliskan beribu sajak dan bacakannya untukku
hingga ku melayang terlalu tinggi

Ada saat di mana kuterlalu takut
untuk jatuh dan tersakiti
Seakan beribu fakta tak cukup bangunkanku
Dari angan-angan indah semuku

Jika nanti benar aku jatuh
Jika nanti benar kau pergi dariku
Siapa yang akan usap perih ini?
Siapa hendak obati sakit ini?
Akankah kau kembali?
Bisakah kau di sini selamanya?

Ada masa di mana kutahu itu semua hanya mimpi
Meski sakit ini nyata,
meski rasa ini nyata
Tinggalah raga nyata tak berjiwa

Bangunkan aku dari hidupku

Minggu, 29 Januari 2012

Tulis Aku

Jika boleh kupinta Tuan
Maka hanya sebuah hal yang kuinginkan
Bebas, Tuan
Bebaskan aku dari segala sakit dan perih ini
Keluarkan aku dari segala jemu yang membelenggu ini

Sungguh Tuan,
Aku ingin bebas
Biarkan jemariku menari di atas pasir
Uraikan beribu kata yang berontak dalam hati
Tuliskan berjuta mimpi yang menyayat pikir

Ah, Tuan bebaskanlah aku
Aku terlampau lemah 'tuk kau pekerjakan
Terlampau jemu 'tuk kau belenggu
Terlalu sakit malah 'tuk kau siksa

Tuan, jika kau masih berkeras hati
Kau hanya boleh menyuruhku satu hal
Menulis, Tuan
Karena hanya tulisanlah yang bebaskanku
Aku hidup untuk menulis Tuan
Maka tulislah aku, Tuhan

Minggu, 22 Januari 2012

Lima Bulir Kebodohan

Aku bodoh bukan?
Siapa yang menginginkan seorang bodoh sepertiku?
Tidak juga engkau
Benar kan?

Maka biarlah kusimpan semua ini
Tiap bulir rahasia tentangmu
Juga aku, bayanganmu

Bulir satu
Aku begitu menyayangimu
Tak peduli rupamu kelak, tingkahmu kelak
Sekeras kumencoba
Hanya hatimu jiwaku berlabuh

Bulir dua
Aku teramat mencintaimu
Walau aku hanyalah bayangmu
Hingga terlampau sulit kau tuk lihatku
Biarlah, kau tak perlu tahu rupaku

Bulir tiga
Aku terlampau menyukaimu
Wajahmu, senyummu, matamu
Yang tak pernah berkenalan dengan mataku
Jangan, aku terlalu buruk rupa tuk kau lihat

Bulir empat
Aku terlalu bodoh
Kisahkan semua burung akan kau
Hingga tak tersisa cerita tentangku
Ini bukan rahasia lagi

Bulir lima
Aku amat sangat ingin tuturkan ini padamu
Maka bantu aku
Menjaga rahasia ini
Diamlah dan lupakanlah
Aku pasti baik-baik saja