Aku ingin menjelajah
Berjalan di atas langit
malam gelap
Berenang dalam samudera
palung dalam
Melihat apa yang tak pernah
kulihat
Merasakan apa yang aku
mati rasa akannya
Menguak apa yang Ia
cipta selain aku
Sabtu, 22 Desember 2012
Kamis, 13 Desember 2012
Pelangi Malam
Menanti pelangi
tersenyum, percikkan sebuah harapan
di malam-malam kelam
aku
Menunggu hujan
menangis, semburatkan sebuah luka
di siang-siang cerah
aku
Mengobrol dengan-Nya
tentang syukur yang tak kunikmati
tangis yang tak kuperihkan
aku
Bertanya pada-Nya
masihkah hati ini di tempatnya
aku
Bagai pelangi di tengah malam
Hilang dari takdir-Nya
menunggu serta menanti
Pilihan kembali kepada
Ia
tersenyum, percikkan sebuah harapan
di malam-malam kelam
aku
Menunggu hujan
menangis, semburatkan sebuah luka
di siang-siang cerah
aku
Mengobrol dengan-Nya
tentang syukur yang tak kunikmati
tangis yang tak kuperihkan
aku
Bertanya pada-Nya
masihkah hati ini di tempatnya
aku
Bagai pelangi di tengah malam
Hilang dari takdir-Nya
menunggu serta menanti
Pilihan kembali kepada
Ia
Minggu, 30 September 2012
Dengar Sebentar
Di bawah bintang malam ini
Di pangkuan pertiwi ku di sini
Diterangi kasih rembulan
Sujud aku dalam kuasa
Nya
Dengar sebentar Tuhan
Betapa aku butuh belai-Mu
malam ini
Aku butuh kalam-Mu
sunyi ini
Di mana jiwaku yang hanyut
Hendak mencari sebuah labuhan
Katakan padaku kemudian
Tuhan
Ke mana harus kuberlabuh
Selain Engkau malam ini?
Dengar sebentar Tuhan
Betapa aku butuh hilangkan ia
Sesaat dari pikirku
Maka tambatkan aku pada-Mu
Sang pemilik dari segala rasa dunia
Dengar sebentar Tuhan
Keluh kesahku malam ini
Peluk sebentar Tuhan
Hatiku dalam dekap kekal
Mu
-Doa seorang hamba yang merindukan-Nya-
Di pangkuan pertiwi ku di sini
Diterangi kasih rembulan
Sujud aku dalam kuasa
Nya
Dengar sebentar Tuhan
Betapa aku butuh belai-Mu
malam ini
Aku butuh kalam-Mu
sunyi ini
Di mana jiwaku yang hanyut
Hendak mencari sebuah labuhan
Katakan padaku kemudian
Tuhan
Ke mana harus kuberlabuh
Selain Engkau malam ini?
Dengar sebentar Tuhan
Betapa aku butuh hilangkan ia
Sesaat dari pikirku
Maka tambatkan aku pada-Mu
Sang pemilik dari segala rasa dunia
Dengar sebentar Tuhan
Keluh kesahku malam ini
Peluk sebentar Tuhan
Hatiku dalam dekap kekal
Mu
-Doa seorang hamba yang merindukan-Nya-
Sabtu, 01 September 2012
Tuhanmu Kawan
Tuhan tahu
Kau yang tertunduk malam ini
yang tertelan isakanmu sendiri
Rindukan pelukan hangatnya
Hilang
Dari sisimu
Tuhan mengerti
Kau kuat
Kawan
Kau hebat
Hingga Ia ujikan ini padamu,
pejuang
Tuhan ijinkan
Para bintang dan rembulan bulat
Doakan ia yang kau sayang malam ini
Agar kau tetap berlari
mengejar mimpimu
Tuhan ciptakan
Ia untuk mencintamu dan kau cinta
Kami tuk genggammu dan kau genggam
Engkau agar kau berdiri teguh dalam jalan lurus-Nya
Jaminkan surga untuk ia
Tersayang, terindukan
Untuk kawanku yang kehilangan ia yang tersayang. Tabah kawan, Tuhan tahu kau mampu menghadapinya. Semoga ia yang kau sayang diterima di sisi-Nya.
01/09/2012
Kau yang tertunduk malam ini
yang tertelan isakanmu sendiri
Rindukan pelukan hangatnya
Hilang
Dari sisimu
Tuhan mengerti
Kau kuat
Kawan
Kau hebat
Hingga Ia ujikan ini padamu,
pejuang
Tuhan ijinkan
Para bintang dan rembulan bulat
Doakan ia yang kau sayang malam ini
Agar kau tetap berlari
mengejar mimpimu
Tuhan ciptakan
Ia untuk mencintamu dan kau cinta
Kami tuk genggammu dan kau genggam
Engkau agar kau berdiri teguh dalam jalan lurus-Nya
Jaminkan surga untuk ia
Tersayang, terindukan
Untuk kawanku yang kehilangan ia yang tersayang. Tabah kawan, Tuhan tahu kau mampu menghadapinya. Semoga ia yang kau sayang diterima di sisi-Nya.
01/09/2012
Kamis, 30 Agustus 2012
Willow Tree
Aku menunggumu
Di sini!
Di bawah pohon rindang ini
Di entah di mana pun
empat musim terjadi
Aku menunggumu
Di sini!
Siapa pun engkau nanti
Siapa pun engkau kelak
Di bawah pohon rindang ini
Jadilah sepertinya,
Seorang yang selalu teduhkan jiwaku
Naungi mimpiku
Lindungi imanku
Willow Tree,
Kau bisa kan jadi seperti
pohon ini?
Di sini!
Di bawah pohon rindang ini
Di entah di mana pun
empat musim terjadi
Aku menunggumu
Di sini!
Siapa pun engkau nanti
Siapa pun engkau kelak
Di bawah pohon rindang ini
Jadilah sepertinya,
Seorang yang selalu teduhkan jiwaku
Naungi mimpiku
Lindungi imanku
Willow Tree,
Kau bisa kan jadi seperti
pohon ini?
Cerita Tak Berawal
Akhirnya,
Kuharap kau tak sesakit aku
Saat rembulan semalam peluk hatiku
Sementara bintang menghujamnya
Jalan mana yang tersisa untukku?
Kedua kakiku gemetar,
ada rasa tak sanggup tuk tetap berdiri
di sini
Dahulu,
Kuharap kau berbeda dan bisa
Membalas segala rasa yang kuhujani
Bagai hujan yang selalu kunjungi tanahku,
tanpa pamrih
Jalan mana yang tersedia untukmu?
Kau memilih tak pedulikan ringkihnya
posisiku
Awalnya,
Bagai pesawat tempur bising
Belah heningnya malam-malamku
Kau belah ragaku,
jejalkan berbagai hal yang aku tak sanggup
terima
Semua kata sayang itu,
aku tak mengenalnya dapat tercipta
untukku
Cepat,
Terlalu cepat
Ombak menerpa hidupku dari kanan
maupun kiri
Aku lunglai
Tak tahu harus apa
Cepat,
Begitu cepat
Aku rubuh dalam peluk sayang
Dua bukit yang peluk daku
Pertiwi bisikkan sayangnya padaku
Bukan sayang semu yang kau janjikan
Kuharap kau tak sesakit aku
Saat rembulan semalam peluk hatiku
Sementara bintang menghujamnya
Jalan mana yang tersisa untukku?
Kedua kakiku gemetar,
ada rasa tak sanggup tuk tetap berdiri
di sini
Dahulu,
Kuharap kau berbeda dan bisa
Membalas segala rasa yang kuhujani
Bagai hujan yang selalu kunjungi tanahku,
tanpa pamrih
Jalan mana yang tersedia untukmu?
Kau memilih tak pedulikan ringkihnya
posisiku
Awalnya,
Bagai pesawat tempur bising
Belah heningnya malam-malamku
Kau belah ragaku,
jejalkan berbagai hal yang aku tak sanggup
terima
Semua kata sayang itu,
aku tak mengenalnya dapat tercipta
untukku
Cepat,
Terlalu cepat
Ombak menerpa hidupku dari kanan
maupun kiri
Aku lunglai
Tak tahu harus apa
Cepat,
Begitu cepat
Aku rubuh dalam peluk sayang
Dua bukit yang peluk daku
Pertiwi bisikkan sayangnya padaku
Bukan sayang semu yang kau janjikan
Senin, 16 Juli 2012
Wisata Tengah Malam
Sini kutunjukkan
Jika bintang selalu terjaga
Menjaga malam-malammu untukku
Meski rembulan tak selalu penuh,
terkadang ia malu darimu
Ia tak pernah melupakan sinarmu
yang terpantul ke wajahnya
Buat ia terangi jiwamu kala malam
Ikut aku,
dan temui ombak lautan
penuh dengan serdaduku di sana
Cumi dan gurita
kan pelukmu hangat, dengan
delapan tangan mereka
Sedang anemon laut yang gemilang
dalam buaian ombak
jadi petunjuk jalanmu menemuiku
dalam mimpi indahmu
Jangkrik di luar sana tak akan pernah
bosan
Bermain orkes hingga kau
terlelap
Dalam pangkuan-Nya malam ini
Wisata ini berakhir,
Di bawah naungan-Nya
Raja berbagai cara
Dan cara-Nya perlihatkan dunia padamu
Denganku, sang pemandu wisata tengah malam
Inginkan kau selalu percaya pada-Nya
Jika bintang selalu terjaga
Menjaga malam-malammu untukku
Meski rembulan tak selalu penuh,
terkadang ia malu darimu
Ia tak pernah melupakan sinarmu
yang terpantul ke wajahnya
Buat ia terangi jiwamu kala malam
Ikut aku,
dan temui ombak lautan
penuh dengan serdaduku di sana
Cumi dan gurita
kan pelukmu hangat, dengan
delapan tangan mereka
Sedang anemon laut yang gemilang
dalam buaian ombak
jadi petunjuk jalanmu menemuiku
dalam mimpi indahmu
Jangkrik di luar sana tak akan pernah
bosan
Bermain orkes hingga kau
terlelap
Dalam pangkuan-Nya malam ini
Wisata ini berakhir,
Di bawah naungan-Nya
Raja berbagai cara
Dan cara-Nya perlihatkan dunia padamu
Denganku, sang pemandu wisata tengah malam
Inginkan kau selalu percaya pada-Nya
Selasa, 08 Mei 2012
Senandung Malam
Kala malam telanjangkan dirinya
Hingga bintang menyembul eksotis di badannya
Sedang rembulan bulat tergantung di dadanya
Tidurlah ia dalam pangkuan suci,
bukan nafsu
Malam-malam di mana zikir sesakkan Arsy
Ternikmati oleh para malaikat yag selalu terjaga
Doa itu sampai pada Mereka
Akan hidup
yang tak pernah dinikmatinya
Kembali ia dengan bouraq pada pertiwi
Setelah kisah Adam dan Hawa ia saksikan di surga
dalam lelapnya
Maka tanah dingin menyambutnya
Keras batu jalanan membangunkannya
Tidur ia di sisi emper toko
Mendongak ke atas,
senandungkan doa dan zikir malamnya
Hingga bintang menyembul eksotis di badannya
Sedang rembulan bulat tergantung di dadanya
Tidurlah ia dalam pangkuan suci,
bukan nafsu
Malam-malam di mana zikir sesakkan Arsy
Ternikmati oleh para malaikat yag selalu terjaga
Doa itu sampai pada Mereka
Akan hidup
yang tak pernah dinikmatinya
Kembali ia dengan bouraq pada pertiwi
Setelah kisah Adam dan Hawa ia saksikan di surga
dalam lelapnya
Maka tanah dingin menyambutnya
Keras batu jalanan membangunkannya
Tidur ia di sisi emper toko
Mendongak ke atas,
senandungkan doa dan zikir malamnya
Minggu, 22 April 2012
Budak Sang Pengkhianat
Biarkan aku merdeka
Dari segala jerat bualmu itu
Aku bukan budakmu,
lalu mengapa kusetia turuti omonganmu?
Kau tak pernah peduli akanku, bukan?
Sihir apa yang kau pakai
agar aku selalu peduli dengamu?
Penyihir kah engkau
berteman dengan kuali panas
dengan larutan darah dan ludah serta nanah
di dalamnya
Ah, bodohkah aku?
Bukan, kau yang terlampau bodoh
Buat apa kau berkhianat
jika hal itu sama sekali tak bawamu ke puncak
dunia
Kau tak tahu?
Kau tak malu?
Dengar!
Mentari dan bulan tertawakan engkau
bersahut-sahutan siang malam
Di mana wajahmu, sayang?
Kau sembunyikan di pusat bumikah?
Ku tanya bumi, dia pun muak kau injak
Sadarlah, sayang!
Sang budak ingin merdeka jua!
Dari segala jerat bualmu itu
Aku bukan budakmu,
lalu mengapa kusetia turuti omonganmu?
Kau tak pernah peduli akanku, bukan?
Sihir apa yang kau pakai
agar aku selalu peduli dengamu?
Penyihir kah engkau
berteman dengan kuali panas
dengan larutan darah dan ludah serta nanah
di dalamnya
Ah, bodohkah aku?
Bukan, kau yang terlampau bodoh
Buat apa kau berkhianat
jika hal itu sama sekali tak bawamu ke puncak
dunia
Kau tak tahu?
Kau tak malu?
Dengar!
Mentari dan bulan tertawakan engkau
bersahut-sahutan siang malam
Di mana wajahmu, sayang?
Kau sembunyikan di pusat bumikah?
Ku tanya bumi, dia pun muak kau injak
Sadarlah, sayang!
Sang budak ingin merdeka jua!
Kamis, 19 April 2012
Hamba Bharatayudha
Kau renkarnasi dewa perang
Kisahmu tertulis dalam Bharatayudha
Di mana pedang di tangan kirimu
Sedang keris terselip di pinggangmu
Kau tidak mati dalam pertempuran itu
Malah hidup kembali dalam sosok anggun,
lemah lembut, bertakhta senyum
Aku hambamu, Tuan
Biar kuusap semua darah serta balut semua lukamu
Jika kini semua uji dari-Nya menyakitimu
Ketika kau hendak menyerah kini
Biar aku, Tuan
Menanggung semua beban dan sakitmu
Tuanku,
pengingat akan perang
Percayalah hambamu ini
Biar hamba bebat semua gores serta jilat semua nanah
Biar hamba genggam tangan Tuan saat engkau hendak jatuh
Tuanku,
ini perangmu
Kelak 'kan kau menangkan perang ini Tuan
Jayamu di atas jayaku
Tuanku,
Betapa bangga hambamu
Miliki Tuan setegar engkau
Kisahmu tertulis dalam Bharatayudha
Di mana pedang di tangan kirimu
Sedang keris terselip di pinggangmu
Kau tidak mati dalam pertempuran itu
Malah hidup kembali dalam sosok anggun,
lemah lembut, bertakhta senyum
Aku hambamu, Tuan
Biar kuusap semua darah serta balut semua lukamu
Jika kini semua uji dari-Nya menyakitimu
Ketika kau hendak menyerah kini
Biar aku, Tuan
Menanggung semua beban dan sakitmu
Tuanku,
pengingat akan perang
Percayalah hambamu ini
Biar hamba bebat semua gores serta jilat semua nanah
Biar hamba genggam tangan Tuan saat engkau hendak jatuh
Tuanku,
ini perangmu
Kelak 'kan kau menangkan perang ini Tuan
Jayamu di atas jayaku
Tuanku,
Betapa bangga hambamu
Miliki Tuan setegar engkau
Rabu, 18 April 2012
Banyuwangi
Wahai Tuan,
Tuanku tercinta
Segala kasih dan sayang yang kau beri
Janganlah lagi kau tanyakan
Bukankah sudah kubalas dengan setia?
Wahai Tuan,
Tuanku terhormat
Segala harta dan citra yang kau curahkan
Janganlah lagi kau berikan
Bukankah ku sudah puas dengan kasihmu?
Jikalau masih Tuan tanyakan
Seberapa besar setia dan cintaku
Bagaimana harus kumenjawab?
Bahkan nyawa ayahandaku kurelakan
tertukar dengan Tuanku tersayang
Bahkan rakyatku kulepaskan
ditukar dengan Tuanku tercinta
Maka tuan,
biarkanlah pertiwi yang menjawab
Biar sungai mewangi membening
Jika memang setiaku lebih dari setiamu
Tuanku tercinta
Segala kasih dan sayang yang kau beri
Janganlah lagi kau tanyakan
Bukankah sudah kubalas dengan setia?
Wahai Tuan,
Tuanku terhormat
Segala harta dan citra yang kau curahkan
Janganlah lagi kau berikan
Bukankah ku sudah puas dengan kasihmu?
Jikalau masih Tuan tanyakan
Seberapa besar setia dan cintaku
Bagaimana harus kumenjawab?
Bahkan nyawa ayahandaku kurelakan
tertukar dengan Tuanku tersayang
Bahkan rakyatku kulepaskan
ditukar dengan Tuanku tercinta
Maka tuan,
biarkanlah pertiwi yang menjawab
Biar sungai mewangi membening
Jika memang setiaku lebih dari setiamu
Minggu, 15 April 2012
Bibir Ibu
Ketika bulan tengah menimang malam
Di mana jangkrik siulkan lagu pengantar tidur
Serta doa mengalir lembut lewat bibirnya
Kau tidur dalam pangkuannya
Memimpikan masa depan,
saat kau berdiri di puncak tertinggi
hidupmu
Kini,
Saat sabit tergantung di antara gemintang
Meski angin tampar pepohonan
Doanya tetap di sana,
di atas bibir lembutnya
Kau menangis di pangkuannya
Menyesali hari kemarin
Ditakuti esok yang begitu tentukan
hidupmu
Maka genggamlah tangannya sebentar
Cium lembut telapak tangan suci
yang setia usap air matamu
Sungguh doanya kan setia hantarkan engkau
Pada jalanmu
Percayalah, ia selalu berada di pihakmu
Apa yang 'kan kau hadapi esok serta lusa
Segala doanya masih di sana,
bersemayam di bibirnya
Ibu,
doakan aku
esok, lusa, dan seterusnya
Di mana jangkrik siulkan lagu pengantar tidur
Serta doa mengalir lembut lewat bibirnya
Kau tidur dalam pangkuannya
Memimpikan masa depan,
saat kau berdiri di puncak tertinggi
hidupmu
Kini,
Saat sabit tergantung di antara gemintang
Meski angin tampar pepohonan
Doanya tetap di sana,
di atas bibir lembutnya
Kau menangis di pangkuannya
Menyesali hari kemarin
Ditakuti esok yang begitu tentukan
hidupmu
Maka genggamlah tangannya sebentar
Cium lembut telapak tangan suci
yang setia usap air matamu
Sungguh doanya kan setia hantarkan engkau
Pada jalanmu
Percayalah, ia selalu berada di pihakmu
Apa yang 'kan kau hadapi esok serta lusa
Segala doanya masih di sana,
bersemayam di bibirnya
Ibu,
doakan aku
esok, lusa, dan seterusnya
Teruntuk kakak kelasku yang esok 'kan hadapi UAN
Minggu, 18 Maret 2012
Merangkai Takdir (Dalam Doa)
Telah jatuh padaku sebuah kunci
Tuk keluar dari segala rasa yang belengguku ini
Bisakah aku pergi, jauh darimu selamanya?
Benarkah Ia tak takdirkanku untukmu?
Sungguh mimpiku teramat banyak
Terlalu berharga,
Tuk sekedar kuserahkan padamu
semuanya
Biar kusentuh, belai lembut tiap angan itu
Lepas dari perangkapmu tuk sesaat
Dan jika memang Ia takdirkanku untukmu
Biarkan aku jadi seperti yang kuingankan dahulu
Takdir ini, takdirku dalam genggam-Mu
Tuhan, jika harus kujatuh dalam perangkapnya berulang kali
Jika harus kuterperosok dalam jurangnya beribu kali
Jamin aku satu hal, Tuhan
Janjikan hamba sebuah tangan tuk dapat selalu memelukku
kala kuterjatuh lagi
Jaga hamba Tuhan,
Agar selalu jadi seperti yang Engkau inginkan
Tuk keluar dari segala rasa yang belengguku ini
Bisakah aku pergi, jauh darimu selamanya?
Benarkah Ia tak takdirkanku untukmu?
Sungguh mimpiku teramat banyak
Terlalu berharga,
Tuk sekedar kuserahkan padamu
semuanya
Biar kusentuh, belai lembut tiap angan itu
Lepas dari perangkapmu tuk sesaat
Dan jika memang Ia takdirkanku untukmu
Biarkan aku jadi seperti yang kuingankan dahulu
Takdir ini, takdirku dalam genggam-Mu
Tuhan, jika harus kujatuh dalam perangkapnya berulang kali
Jika harus kuterperosok dalam jurangnya beribu kali
Jamin aku satu hal, Tuhan
Janjikan hamba sebuah tangan tuk dapat selalu memelukku
kala kuterjatuh lagi
Jaga hamba Tuhan,
Agar selalu jadi seperti yang Engkau inginkan
Sabtu, 03 Maret 2012
Terlalu Dekat
Tadi itu bukan mimpi, kan?
Saat kau di sana
Duduk manis di sampingku
Tidak, bukankah itu terlalu dekat?
Kau tidak dengar degup jantungku kan?
Para pemain snare drum sedang berlomba di sana
Saat kau di sana
Condongkan tubuhmu ke depan
Tidak, bukankah itu terlalu dekat?
Kau tidak sadar jika kuterlalu cepat
menarik tubuhku menjauhimu bukan?
Aku terlalu takut bahkan tuk sedikit nodaimu
Saat kau di sana
Memanggilku dengan merdu
Tidak, bukankah itu terlalu manis
Kau bahkan tak bermaksud menyebut namaku saat itu
Wajahku memerah saat dengar kau salah memanggil orang
Saat kau di sana
Diam
Hingga aku dapat nikmati aroma tubuhmu
Lembut, membelai indra penciumanku
Kau tidak melihatku mendengus seperti anjing bukan?
Itu akan sangat memalukan
Saat kau di sana
Bukankah itu terlalu dekat?
Aku tak bisa lebih dekat denganmu
Aku takut terlalu menginginkanmu, sayang
Saat kau di sana
Duduk manis di sampingku
Tidak, bukankah itu terlalu dekat?
Kau tidak dengar degup jantungku kan?
Para pemain snare drum sedang berlomba di sana
Saat kau di sana
Condongkan tubuhmu ke depan
Tidak, bukankah itu terlalu dekat?
Kau tidak sadar jika kuterlalu cepat
menarik tubuhku menjauhimu bukan?
Aku terlalu takut bahkan tuk sedikit nodaimu
Saat kau di sana
Memanggilku dengan merdu
Tidak, bukankah itu terlalu manis
Kau bahkan tak bermaksud menyebut namaku saat itu
Wajahku memerah saat dengar kau salah memanggil orang
Saat kau di sana
Diam
Hingga aku dapat nikmati aroma tubuhmu
Lembut, membelai indra penciumanku
Kau tidak melihatku mendengus seperti anjing bukan?
Itu akan sangat memalukan
Saat kau di sana
Bukankah itu terlalu dekat?
Aku tak bisa lebih dekat denganmu
Aku takut terlalu menginginkanmu, sayang
Selasa, 07 Februari 2012
Mimpi
Ada kala di mana suaramu terngiang di benakku
Menyanyikan lullaby hingga ku tertidur pulas
Mainkan kisah roman hingga ku menangis deras
Tuliskan beribu sajak dan bacakannya untukku
hingga ku melayang terlalu tinggi
Ada saat di mana kuterlalu takut
untuk jatuh dan tersakiti
Seakan beribu fakta tak cukup bangunkanku
Dari angan-angan indah semuku
Jika nanti benar aku jatuh
Jika nanti benar kau pergi dariku
Siapa yang akan usap perih ini?
Siapa hendak obati sakit ini?
Akankah kau kembali?
Bisakah kau di sini selamanya?
Ada masa di mana kutahu itu semua hanya mimpi
Meski sakit ini nyata,
meski rasa ini nyata
Tinggalah raga nyata tak berjiwa
Bangunkan aku dari hidupku
Menyanyikan lullaby hingga ku tertidur pulas
Mainkan kisah roman hingga ku menangis deras
Tuliskan beribu sajak dan bacakannya untukku
hingga ku melayang terlalu tinggi
Ada saat di mana kuterlalu takut
untuk jatuh dan tersakiti
Seakan beribu fakta tak cukup bangunkanku
Dari angan-angan indah semuku
Jika nanti benar aku jatuh
Jika nanti benar kau pergi dariku
Siapa yang akan usap perih ini?
Siapa hendak obati sakit ini?
Akankah kau kembali?
Bisakah kau di sini selamanya?
Ada masa di mana kutahu itu semua hanya mimpi
Meski sakit ini nyata,
meski rasa ini nyata
Tinggalah raga nyata tak berjiwa
Bangunkan aku dari hidupku
Minggu, 29 Januari 2012
Tulis Aku
Jika boleh kupinta Tuan
Maka hanya sebuah hal yang kuinginkan
Bebas, Tuan
Bebaskan aku dari segala sakit dan perih ini
Keluarkan aku dari segala jemu yang membelenggu ini
Sungguh Tuan,
Aku ingin bebas
Biarkan jemariku menari di atas pasir
Uraikan beribu kata yang berontak dalam hati
Tuliskan berjuta mimpi yang menyayat pikir
Ah, Tuan bebaskanlah aku
Aku terlampau lemah 'tuk kau pekerjakan
Terlampau jemu 'tuk kau belenggu
Terlalu sakit malah 'tuk kau siksa
Tuan, jika kau masih berkeras hati
Kau hanya boleh menyuruhku satu hal
Menulis, Tuan
Karena hanya tulisanlah yang bebaskanku
Aku hidup untuk menulis Tuan
Maka tulislah aku, Tuhan
Maka hanya sebuah hal yang kuinginkan
Bebas, Tuan
Bebaskan aku dari segala sakit dan perih ini
Keluarkan aku dari segala jemu yang membelenggu ini
Sungguh Tuan,
Aku ingin bebas
Biarkan jemariku menari di atas pasir
Uraikan beribu kata yang berontak dalam hati
Tuliskan berjuta mimpi yang menyayat pikir
Ah, Tuan bebaskanlah aku
Aku terlampau lemah 'tuk kau pekerjakan
Terlampau jemu 'tuk kau belenggu
Terlalu sakit malah 'tuk kau siksa
Tuan, jika kau masih berkeras hati
Kau hanya boleh menyuruhku satu hal
Menulis, Tuan
Karena hanya tulisanlah yang bebaskanku
Aku hidup untuk menulis Tuan
Maka tulislah aku, Tuhan
Minggu, 22 Januari 2012
Lima Bulir Kebodohan
Aku bodoh bukan?
Siapa yang menginginkan seorang bodoh sepertiku?
Tidak juga engkau
Benar kan?
Maka biarlah kusimpan semua ini
Tiap bulir rahasia tentangmu
Juga aku, bayanganmu
Bulir satu
Aku begitu menyayangimu
Tak peduli rupamu kelak, tingkahmu kelak
Sekeras kumencoba
Hanya hatimu jiwaku berlabuh
Bulir dua
Aku teramat mencintaimu
Walau aku hanyalah bayangmu
Hingga terlampau sulit kau tuk lihatku
Biarlah, kau tak perlu tahu rupaku
Bulir tiga
Aku terlampau menyukaimu
Wajahmu, senyummu, matamu
Yang tak pernah berkenalan dengan mataku
Jangan, aku terlalu buruk rupa tuk kau lihat
Bulir empat
Aku terlalu bodoh
Kisahkan semua burung akan kau
Hingga tak tersisa cerita tentangku
Ini bukan rahasia lagi
Bulir lima
Aku amat sangat ingin tuturkan ini padamu
Maka bantu aku
Menjaga rahasia ini
Diamlah dan lupakanlah
Aku pasti baik-baik saja
Siapa yang menginginkan seorang bodoh sepertiku?
Tidak juga engkau
Benar kan?
Maka biarlah kusimpan semua ini
Tiap bulir rahasia tentangmu
Juga aku, bayanganmu
Bulir satu
Aku begitu menyayangimu
Tak peduli rupamu kelak, tingkahmu kelak
Sekeras kumencoba
Hanya hatimu jiwaku berlabuh
Bulir dua
Aku teramat mencintaimu
Walau aku hanyalah bayangmu
Hingga terlampau sulit kau tuk lihatku
Biarlah, kau tak perlu tahu rupaku
Bulir tiga
Aku terlampau menyukaimu
Wajahmu, senyummu, matamu
Yang tak pernah berkenalan dengan mataku
Jangan, aku terlalu buruk rupa tuk kau lihat
Bulir empat
Aku terlalu bodoh
Kisahkan semua burung akan kau
Hingga tak tersisa cerita tentangku
Ini bukan rahasia lagi
Bulir lima
Aku amat sangat ingin tuturkan ini padamu
Maka bantu aku
Menjaga rahasia ini
Diamlah dan lupakanlah
Aku pasti baik-baik saja
Langganan:
Postingan (Atom)