Menunggu subuh
Akhiri malam penantianku yang panjang
Sudahi segala resah dan keraguan
Diantara bulan yang masih tampakkan sinarnya
Aku berdiri berpayung segala kesah
Resah menantimu pulang:
Berlabuh kembali pada jiwaku yang hampir karam
Ditemani tampiasan ombak
Memandikanku hingga suci dari segala harap
Menyuapi air garam kenyataan
Mengikis segala cita yang dahulu terbentang
Bayang rembulan terpantul di laut lepas
Sebagaimana refleksiku terlihat jelas di atas genang air asin
Aku telah renta dan tua
Wajahku keriput, tak lagi mekar bak mawar merah
Telah layu dan siap menjadi humus:
diuraikan makhluk-makhluk kecil penghuni tanah
Ini aku, Nak
Menunggumu tiap subuh menjelang
Mengingat lekat-lekat bagaimana kau tinggalkan
tanah lahir hingga besarmu
Melantunkan janjimu 'tuk pulang ke pelukanku
Di saat yang sama, kala subuh
Berpuluh tahun ku menunggumu
Tak jua kau bersandar dalam pelukanku
Berliter peluh saksikan teguhnya aku
Menunggumu kembali ke negerimu
Pulanglah, Nak
Sebelum ibumu ini berpulang
Bontang, 14 Juni 2011
4.33
Selasa, 14 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar