Bagai badai menghantam pertiwi
Tumbangkan segala tiang kehidupan
Tempatku dibesarkan olehmu
Dalam tiap tangis dan tawa yang menghidupiku
Di mana teror menjadi makanan utamaku
Tersusui oleh ketakutan akan kematian
Kini ku berdiri di depanmu
Yang teramat berarti bagi jiwaku
Hingga kutahu alasanku
untuk menantang semua maut :
membunuhku dalam kesetiaan
Mereka semakin dekat,
Ibu
Larilah!
Relakanlah putramu berbalas budi
Meski jasamu 'kan selalu terhutang dalam darahku
Gergaji menghunus setiap asa
Tumbang
Satu demi satu menghantam jiwa-jiwa yang tak teranggap
Aku masih berdiri
Di depan ibu yang menangisiku
Derak reranting pepohonan dan dedaun jatuh
Terserak di atas tanah kering yang menjerit
Diiringi teriakan kumbang yang meminta ampun
Serta para enggang yang mengutuk
Sampailah mereka di hadapanku
Satu-satunya satwa yang bertahan di tengah hancurnya hutan kami!
Mereka pandangi aku seolah jamur di atas kayu lapuk
Satu gerakan, maka tamatlah riwayatku :
Seekor orang utan mati di genggaman manusia tak berhati
Larilah, Ibu
Biarkan putramu berbalas budi
Meski tak 'kan sanggup terbalas semua jasa
Nyawaku,
Hadiah terakhir untukmu
Pelatuk senapan pun menghentak
Sabtu, 04 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar