Selasa, 31 Mei 2011
Pentas Malam
Menari bersama bintang yang tak berhenti mengedipkan mata
Ditemani alunan tembang ciptaan tuan jangkrik sang maestro
Luput dalam waktu yang semakin larut
Menghilang di tengah kegelapan malam
Dituntun oleh kedamaian jiwa yang menyenangkan
Turut dalam malam-malam sang rembulan
Pertunjukan sang langit telah dimulai
Di mana peran utamanya sang ratu malam
Cantik dengan tubuh bulat penuhnya
Bercahaya perak memikat :
Hipnotis tiap pasang mata yang lihatnya
Dan dayangnya para bintang
Begitu cantik
Mengawal ratunya menjelajah langit
Mengelilingi bumi 'tuk memikat segala makhluk
Buat mereka berdecak kagum akan kebesaran Sang Pencipta
Tak akan selesai pentas sepanjang malam
Kecuali karena sang surya kembali dari peraduannya
Sadarkan semua dari terjaganya malam
Mengakhiri pertunjukan sang langit
Sabtu, 21 Mei 2011
Tak Paham Tapi Sayang
Sungguh aku tak mengerti
Tiap kali terputar beribu ingatan
Tentangmu yang terbingkai sakit
Luar biasa
Sesakkan rongga rusukku
Jemariku terasa di tusuk beribu jarum
Saat senyum terkembang di rautmu
Nyeri
Seakan darah mengalir diantara buku jari
Dan genggamanmu
Tertinggal di telapakku
Buatku sesak
Tiap rasa itu penuhi angan
Rasa apa ini?
Aku memang tak mengerti
Hanya saja aku
Terlalu sayang tuk lupakannya
Selasa, 17 Mei 2011
Rentang Waktu
Dalam tiap doa
Yang sesakkan hembus napas
Penuhkan harap
Dalam rongga rusuk sempit
Dalam tiap duka
Sayatkan kenangan pahit
Syaratkan terluka kembali
Habiskan janji kosong
Dengan sesal yang membunuh
Dalam tiap dosa
Di mana hawa dan nafsu bercumbu
Berikan stigma
Bagai kertas bercat nista
: Jauh dari suci
Dalam tiap waktu
Dari ruh hingga jasadnya
Dari tanah hingga humus
Dari dan diakhiri dengan darah
Tangis antarkan kembali
Setahun lima tahun
Terlalu laju
Mengapa bumi berlari begitu cepat?
Biarkanku
Tertinggal di ujung zaman
Inikah hidup?
Penuh sesak dengan doa
Duka
Dosa
Terjejal dalam rentang waktu yang begitu sempit
Sabtu, 14 Mei 2011
Lekuk Senyum
Dalam setiap cintanya
Hela napasnya
Diberikan hanya padaku
Tulus
Lembut
Suci
Dalam hangat jamahnya
Jemari panjang
Menyentuh segala ragu dalam diriku
Tangis
Rintih
Keluh
Terseka peluhnya
Atas segala kasih di dunia
Yang ia himpun hanya untukku
Memoar
Memori
Teringat kembali
Bagai badai menggulung tubuhku
Tumbangkan segala bangga
Menarik rindu yang terbenam nafsu
Beribu kenangan antarkanku
Pada sosok rembulan kala senja
Yang pertama, dan utama
Kulihat
Kuraba
Kusakiti
Entah bagaimna semua kan kutebus
Dosa seorang durhaka
Hina seorang nista
Dingin pusara ingatkanku
Terlalu jauh tuk kembali
Terlalu susah tuk memutar kembali
Terlambat
Tinggalah doa di sela isak kerinduan
Menyebutnya lirih: Ibu
Bontang, 14 Mei 2011
21.03
Krisis persepsi akan JUDUL!
Minggu, 08 Mei 2011
Masihlah Hina
Melepas semua rindu yang menyesakkan
Mengakhiri penantian panjang
Menjawab segala tanya dalam duka
Suka menghampiri,
Menjanjikan beribu asa
Memberi semangat tulus yang berkobar
Membebaskan segala jiwa yang terpendam,
Terkubur jauh dalam tanah kelahiran
Kepalaku menantang sang langit kelam
Jemariku bersalaman dengan rintik-rintik kebebasan
Ragaku dipeluk dingin kesenangan
Dunia berdansa dengan sang waktu
Jikalau ada hal sempitkan rongga rusukku
Itulah diri-Nya yang Maha Segalanya
Begitu kunantikan hadir-Nya
Meski kusadar,
Ku belum sanggup bersua dengan-Nya
Bontang, 8 Mei 2011
20.54
Setelah mengikuti Preview The ESQway 165