Rabu, 13 April 2011

Jenuh

Tiap detik, waktu, hari
Kuhabiskan hanya untuk menontonmu
Menontonmu dalam pikiran kosongku
Lupakan kau lupakan kau
Adalah hal paling susah untuk kulakukan
Bosan aku,
Menonton pentas monotonmu

Jumat, 08 April 2011

Petir Kencana

Terbatas laut, tinggi-tinggi besi menjulang
Terbingkai kelam, langit malam mengenang

Sosok gagah tegar lewat
Membelahku bagai jenawi
Langit malam menjerit
Seberkas cahaya terseruak

Sang kencana tak berkuda
Hanya nyawa terbawa tercecer
Bercak emas jatuh menjejak
Hangus tercium semerbak

Kala ia menyentuh kakiku
Teriakan menggema bersamaku
Sebuah doa t'lah tersampaikan
Terkutuk seorang anak dipangkuan ibunda

Terbatas laut, tinggi-tinggi tembok membenteng
Terbingkai kelam, langit malam mengenang

Minggu, 03 April 2011

Puisi

Tertumpuk dalam sudut ruangan
Tak terbagi, tak terjangkau

Sendiri

Menangis

Meratap

Tertumpuk dalam sebuah buku
Tertulis, terbaca


Minggu, 3 April 2011 20.56

Sendiri

Tak ada yang harus kubagi
Biarkan semua itu kunikmati sendiri
Rasa sakit dan penyesalan
Tawa dan tangis
Perih dan nyeri
Sendiri



Minggu, 3 April 2011 20.49

Sabtu, 02 April 2011

Antara Bambu dan Pensil

Enam puluh enam tahun lalu,
Di balik semak, berteman ilalang
Dilindungi doa ibunda
Digerayangi keringat ketakutan

Enam puluh enam tahun kemudian,
Di balik meja, berteman kertas
Diiringi doa ibunda
Digerayangi keringat ketakutan

Mereka berjuang, berdoa, dan berharap
Demi Sang Negeri yang tak pernah merdeka
Demi sang ibu yang haus akan kebebasan
Mereka berjuang, berdoa, dan berharap

Enam puluh enam tahun lalu,
Berbekal semangat, menggenggam bambu kuning
Menyerahkan tangis darah jiwa
Mengharap sebuah kata "merdeka"

Enam puluh enam tahun kemudian,
Berbekal ilmu, menggenggam batang pensil
Menyerahkan tangis keringat jiwa
Mengharap sebuah kata "lulus"

Mereka memiliki tujuan yang sama
Memerdekakan Sang Bangsa yang tak pernah merdeka
Memerdekakan sang ibu dari segala keterpurukan
Mereka benar miliki tujuan yang sama



Bontang, 2 April 2011 22.45