Kamis, 19 April 2012

Hamba Bharatayudha

Kau renkarnasi dewa perang
Kisahmu tertulis dalam Bharatayudha
Di mana pedang di tangan kirimu
Sedang keris terselip di pinggangmu

Kau tidak mati dalam pertempuran itu
Malah hidup kembali dalam sosok anggun,
lemah lembut, bertakhta senyum
Aku hambamu, Tuan
Biar kuusap semua darah serta balut semua lukamu

Jika kini semua uji dari-Nya menyakitimu
Ketika kau hendak menyerah kini
Biar aku, Tuan
Menanggung semua beban dan sakitmu

Tuanku,
pengingat akan perang
Percayalah hambamu ini
Biar hamba bebat semua gores serta jilat semua nanah
Biar hamba genggam tangan Tuan saat engkau hendak jatuh

Tuanku,
ini perangmu
Kelak 'kan kau menangkan perang ini Tuan
Jayamu di atas jayaku

Tuanku,
Betapa bangga hambamu
Miliki Tuan setegar engkau




Rabu, 18 April 2012

Banyuwangi

Wahai Tuan,
Tuanku tercinta
Segala kasih dan sayang  yang kau beri
Janganlah lagi kau tanyakan
Bukankah sudah kubalas dengan setia?

Wahai Tuan,
Tuanku terhormat
Segala harta dan citra yang kau curahkan
Janganlah lagi kau berikan
Bukankah ku sudah puas dengan kasihmu?

Jikalau masih Tuan tanyakan
Seberapa besar setia dan cintaku
Bagaimana harus kumenjawab?

Bahkan nyawa ayahandaku kurelakan
tertukar dengan Tuanku tersayang
Bahkan rakyatku kulepaskan
ditukar dengan Tuanku tercinta

Maka tuan,
biarkanlah pertiwi yang menjawab
Biar sungai mewangi membening
Jika memang setiaku lebih dari setiamu

Minggu, 15 April 2012

Bibir Ibu

Ketika bulan tengah menimang malam
Di mana jangkrik siulkan lagu pengantar tidur
Serta doa mengalir lembut lewat bibirnya
Kau tidur dalam pangkuannya
Memimpikan masa depan,
saat kau berdiri di puncak tertinggi
hidupmu

Kini,
Saat sabit tergantung di antara gemintang
Meski angin tampar pepohonan
Doanya tetap di sana,
di atas bibir lembutnya
Kau menangis di pangkuannya
Menyesali hari kemarin
Ditakuti esok yang begitu tentukan
hidupmu

Maka genggamlah tangannya sebentar
Cium lembut telapak tangan suci
yang setia usap air matamu
Sungguh doanya kan setia hantarkan engkau
Pada jalanmu
Percayalah, ia selalu berada di pihakmu
Apa yang 'kan kau hadapi esok serta lusa
Segala doanya masih di sana,
bersemayam di bibirnya

            Ibu,
            doakan aku
            esok, lusa, dan seterusnya



Teruntuk kakak kelasku yang esok 'kan hadapi UAN

Minggu, 18 Maret 2012

Merangkai Takdir (Dalam Doa)

Telah jatuh padaku sebuah kunci
Tuk keluar dari segala rasa yang belengguku ini
Bisakah aku pergi, jauh darimu selamanya?
Benarkah Ia tak takdirkanku untukmu?

Sungguh mimpiku teramat banyak
Terlalu berharga,
Tuk sekedar kuserahkan padamu
semuanya

Biar kusentuh, belai lembut tiap angan itu
Lepas dari perangkapmu tuk sesaat
Dan jika memang Ia takdirkanku untukmu
Biarkan aku jadi seperti yang kuingankan dahulu

Takdir ini, takdirku dalam genggam-Mu
Tuhan, jika harus kujatuh dalam perangkapnya berulang kali
Jika harus kuterperosok dalam jurangnya beribu kali
Jamin aku satu hal, Tuhan
Janjikan hamba sebuah tangan tuk dapat selalu memelukku
kala kuterjatuh lagi

Jaga hamba Tuhan,
Agar selalu jadi seperti yang Engkau inginkan

Sabtu, 03 Maret 2012

Terlalu Dekat

Tadi itu bukan mimpi, kan?

Saat kau di sana
Duduk manis di sampingku
Tidak, bukankah itu terlalu dekat?
Kau tidak dengar degup jantungku kan?
Para pemain snare drum sedang berlomba di sana

Saat kau di sana
Condongkan tubuhmu ke depan
Tidak, bukankah itu terlalu dekat?
Kau tidak sadar jika kuterlalu cepat
menarik tubuhku menjauhimu bukan?
Aku terlalu takut bahkan tuk sedikit nodaimu

Saat kau di sana
Memanggilku dengan merdu
Tidak, bukankah itu terlalu manis
Kau bahkan tak bermaksud menyebut namaku saat itu
Wajahku memerah saat dengar kau salah memanggil orang

Saat kau di sana
Diam
Hingga aku dapat nikmati aroma tubuhmu
Lembut, membelai indra penciumanku
Kau tidak melihatku mendengus seperti anjing bukan?
Itu akan sangat memalukan

Saat kau di sana
Bukankah itu terlalu dekat?
Aku tak bisa lebih dekat denganmu
Aku takut terlalu menginginkanmu, sayang