Sini kutunjukkan
Jika bintang selalu terjaga
Menjaga malam-malammu untukku
Meski rembulan tak selalu penuh,
terkadang ia malu darimu
Ia tak pernah melupakan sinarmu
yang terpantul ke wajahnya
Buat ia terangi jiwamu kala malam
Ikut aku,
dan temui ombak lautan
penuh dengan serdaduku di sana
Cumi dan gurita
kan pelukmu hangat, dengan
delapan tangan mereka
Sedang anemon laut yang gemilang
dalam buaian ombak
jadi petunjuk jalanmu menemuiku
dalam mimpi indahmu
Jangkrik di luar sana tak akan pernah
bosan
Bermain orkes hingga kau
terlelap
Dalam pangkuan-Nya malam ini
Wisata ini berakhir,
Di bawah naungan-Nya
Raja berbagai cara
Dan cara-Nya perlihatkan dunia padamu
Denganku, sang pemandu wisata tengah malam
Inginkan kau selalu percaya pada-Nya
Senin, 16 Juli 2012
Selasa, 08 Mei 2012
Senandung Malam
Kala malam telanjangkan dirinya
Hingga bintang menyembul eksotis di badannya
Sedang rembulan bulat tergantung di dadanya
Tidurlah ia dalam pangkuan suci,
bukan nafsu
Malam-malam di mana zikir sesakkan Arsy
Ternikmati oleh para malaikat yag selalu terjaga
Doa itu sampai pada Mereka
Akan hidup
yang tak pernah dinikmatinya
Kembali ia dengan bouraq pada pertiwi
Setelah kisah Adam dan Hawa ia saksikan di surga
dalam lelapnya
Maka tanah dingin menyambutnya
Keras batu jalanan membangunkannya
Tidur ia di sisi emper toko
Mendongak ke atas,
senandungkan doa dan zikir malamnya
Hingga bintang menyembul eksotis di badannya
Sedang rembulan bulat tergantung di dadanya
Tidurlah ia dalam pangkuan suci,
bukan nafsu
Malam-malam di mana zikir sesakkan Arsy
Ternikmati oleh para malaikat yag selalu terjaga
Doa itu sampai pada Mereka
Akan hidup
yang tak pernah dinikmatinya
Kembali ia dengan bouraq pada pertiwi
Setelah kisah Adam dan Hawa ia saksikan di surga
dalam lelapnya
Maka tanah dingin menyambutnya
Keras batu jalanan membangunkannya
Tidur ia di sisi emper toko
Mendongak ke atas,
senandungkan doa dan zikir malamnya
Minggu, 22 April 2012
Budak Sang Pengkhianat
Biarkan aku merdeka
Dari segala jerat bualmu itu
Aku bukan budakmu,
lalu mengapa kusetia turuti omonganmu?
Kau tak pernah peduli akanku, bukan?
Sihir apa yang kau pakai
agar aku selalu peduli dengamu?
Penyihir kah engkau
berteman dengan kuali panas
dengan larutan darah dan ludah serta nanah
di dalamnya
Ah, bodohkah aku?
Bukan, kau yang terlampau bodoh
Buat apa kau berkhianat
jika hal itu sama sekali tak bawamu ke puncak
dunia
Kau tak tahu?
Kau tak malu?
Dengar!
Mentari dan bulan tertawakan engkau
bersahut-sahutan siang malam
Di mana wajahmu, sayang?
Kau sembunyikan di pusat bumikah?
Ku tanya bumi, dia pun muak kau injak
Sadarlah, sayang!
Sang budak ingin merdeka jua!
Dari segala jerat bualmu itu
Aku bukan budakmu,
lalu mengapa kusetia turuti omonganmu?
Kau tak pernah peduli akanku, bukan?
Sihir apa yang kau pakai
agar aku selalu peduli dengamu?
Penyihir kah engkau
berteman dengan kuali panas
dengan larutan darah dan ludah serta nanah
di dalamnya
Ah, bodohkah aku?
Bukan, kau yang terlampau bodoh
Buat apa kau berkhianat
jika hal itu sama sekali tak bawamu ke puncak
dunia
Kau tak tahu?
Kau tak malu?
Dengar!
Mentari dan bulan tertawakan engkau
bersahut-sahutan siang malam
Di mana wajahmu, sayang?
Kau sembunyikan di pusat bumikah?
Ku tanya bumi, dia pun muak kau injak
Sadarlah, sayang!
Sang budak ingin merdeka jua!
Kamis, 19 April 2012
Hamba Bharatayudha
Kau renkarnasi dewa perang
Kisahmu tertulis dalam Bharatayudha
Di mana pedang di tangan kirimu
Sedang keris terselip di pinggangmu
Kau tidak mati dalam pertempuran itu
Malah hidup kembali dalam sosok anggun,
lemah lembut, bertakhta senyum
Aku hambamu, Tuan
Biar kuusap semua darah serta balut semua lukamu
Jika kini semua uji dari-Nya menyakitimu
Ketika kau hendak menyerah kini
Biar aku, Tuan
Menanggung semua beban dan sakitmu
Tuanku,
pengingat akan perang
Percayalah hambamu ini
Biar hamba bebat semua gores serta jilat semua nanah
Biar hamba genggam tangan Tuan saat engkau hendak jatuh
Tuanku,
ini perangmu
Kelak 'kan kau menangkan perang ini Tuan
Jayamu di atas jayaku
Tuanku,
Betapa bangga hambamu
Miliki Tuan setegar engkau
Kisahmu tertulis dalam Bharatayudha
Di mana pedang di tangan kirimu
Sedang keris terselip di pinggangmu
Kau tidak mati dalam pertempuran itu
Malah hidup kembali dalam sosok anggun,
lemah lembut, bertakhta senyum
Aku hambamu, Tuan
Biar kuusap semua darah serta balut semua lukamu
Jika kini semua uji dari-Nya menyakitimu
Ketika kau hendak menyerah kini
Biar aku, Tuan
Menanggung semua beban dan sakitmu
Tuanku,
pengingat akan perang
Percayalah hambamu ini
Biar hamba bebat semua gores serta jilat semua nanah
Biar hamba genggam tangan Tuan saat engkau hendak jatuh
Tuanku,
ini perangmu
Kelak 'kan kau menangkan perang ini Tuan
Jayamu di atas jayaku
Tuanku,
Betapa bangga hambamu
Miliki Tuan setegar engkau
Rabu, 18 April 2012
Banyuwangi
Wahai Tuan,
Tuanku tercinta
Segala kasih dan sayang yang kau beri
Janganlah lagi kau tanyakan
Bukankah sudah kubalas dengan setia?
Wahai Tuan,
Tuanku terhormat
Segala harta dan citra yang kau curahkan
Janganlah lagi kau berikan
Bukankah ku sudah puas dengan kasihmu?
Jikalau masih Tuan tanyakan
Seberapa besar setia dan cintaku
Bagaimana harus kumenjawab?
Bahkan nyawa ayahandaku kurelakan
tertukar dengan Tuanku tersayang
Bahkan rakyatku kulepaskan
ditukar dengan Tuanku tercinta
Maka tuan,
biarkanlah pertiwi yang menjawab
Biar sungai mewangi membening
Jika memang setiaku lebih dari setiamu
Tuanku tercinta
Segala kasih dan sayang yang kau beri
Janganlah lagi kau tanyakan
Bukankah sudah kubalas dengan setia?
Wahai Tuan,
Tuanku terhormat
Segala harta dan citra yang kau curahkan
Janganlah lagi kau berikan
Bukankah ku sudah puas dengan kasihmu?
Jikalau masih Tuan tanyakan
Seberapa besar setia dan cintaku
Bagaimana harus kumenjawab?
Bahkan nyawa ayahandaku kurelakan
tertukar dengan Tuanku tersayang
Bahkan rakyatku kulepaskan
ditukar dengan Tuanku tercinta
Maka tuan,
biarkanlah pertiwi yang menjawab
Biar sungai mewangi membening
Jika memang setiaku lebih dari setiamu
Langganan:
Postingan (Atom)